”Don’t look for perfection, but perfect what already exists”
“(Jangan mencari yang sempurna, tapi sempurnakan apa yang sudah ada)”
Dunia ini memang sejatinya tidak pernah sempurna. Ia adalah tempat persinggahan, bukan tujuan akhir yang kekal. Ketika kita menuntut kesempurnaan dari segala hal, baik dari pasangan, pekerjaan, harta, maupun kenikmatan di situlah kita mulai belajar kecewa terus menerus. Ekspektasi yang melampaui tabiat dunia hanya akan membawa kita pada kepahitan.
Mengapa? Karena hanya Allah, Sang Pencipta, yang memiliki sifat Al-Kamil (Maha Sempurna) secara mutlak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Artinya:
“Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (Qs. At-Taubah : 38)
Ayat ini dengan jelas menunjukkan betapa kecil dan singkatnya nilai dunia dibandingkan akhirat. Kesempurnaan dan kenikmatan sejati hanya ada di kehidupan yang abadi. Dunia ini, dengan segala perhiasannya, adalah fana dan bersifat nisbi (relatif), tidak pantas untuk dijadikan sandaran utama pencarian kesempurnaan. Rasulullah SAW bersabda,
لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
Artinya:
“(Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir.” (HR. At-Tirmidzi No. 477)
Hadis ini menegaskan kehinaan dan ketidakberharganya dunia dalam pandangan Allah. Sesuatu yang nilainya serendah sayap nyamuk mustahil memiliki kesempurnaan yang kita cari.
Kesadaran bahwa dunia ini hanyalah tempat ujian yang tidak sempurna adalah kunci ketenangan batin. Berhentilah menuntut kesempurnaan dari ciptaan yang memang diciptakan tidak sempurna, dan alihkanlah harapan tertinggi kita hanya kepada Allah Al-Kamil.
Jadikan ketidaksempurnaan dunia sebagai motivasi untuk beramal saleh, mencari bekal yang nilainya kekal, dan meraih kebahagiaan paripurna di akhirat kelak. Dengan begitu, kekecewaan akan berganti menjadi kesabaran, dan tuntutan kesempurnaan akan bertransformasi menjadi penerimaan dan syukur.
Semoga bermanfaat. (*)
