Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sukoharjo menyelenggarakan Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang bertempat di MCC LKSA Muhammadiyah Cabang Grogol, Sukoharjo, Sabtu (31/01/2026). Kegiatan ini diikuti oleh jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PCM–PCA) Grogol, perwakilan Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PRM–PRA) se-Kecamatan Grogol, perwakilan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta organisasi otonom tingkat cabang.
Kajian tersebut menghadirkan KH. Awaluddin Mufti Efendi, S.PdI, MSi, anggota Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Daerah Sukoharjo, sebagai narasumber. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Turun ke Bawah (Turba) PDM Sukoharjo dalam rangka penguatan ideologi, pendalaman pemahaman keislaman, serta pemantapan manhaj tarjih di lingkungan pimpinan cabang.
Dalam pemaparannya, Ustaz Awaluddin menegaskan bahwa kesucian (thaharah) dalam Islam tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi juga secara maknawi dan akidah. Hal tersebut ditegaskan melalui hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa seorang mukmin pada hakikatnya tidaklah najis.
“Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang mukmin itu tidak najis. Najis secara maknawi adalah kesyirikan, bukan keimanan,” jelasnya.
Ia mengaitkan penjelasan tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 28 yang menyebutkan bahwa yang dinyatakan najis adalah orang-orang musyrik, bukan orang beriman. Dengan demikian, setiap mukmin yang tidak melakukan kesyirikan pada dasarnya adalah suci.
Materi kajian merujuk pada kitab Matan Fiqh Ghusl karya KH. Sholahuddin Sirizar, Lc., M.A. Salah satu pembahasan penting adalah penjelasan ayat lā yamassuhu illā al-muṭahharūn dalam QS. Al-Wāqi‘ah ayat 79. Menurut narasumber, ayat tersebut tidak berkaitan dengan mushaf Al-Qur’an sebagaimana yang sering dipahami secara umum.
“Surah Al-Wāqi‘ah diturunkan di Makkah, jauh sebelum mushaf Al-Qur’an dibukukan pada masa Khalifah Utsman bin ‘Affan. Karena itu, ayat ini tidak berbicara tentang mushaf, melainkan tentang kesucian maknawi,” terangnya.
Ia menambahkan, menurut para mufassir, yang dimaksud al-muṭahharūn adalah orang-orang yang disucikan oleh Allah SWT, yaitu mereka yang benar-benar beriman, melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
Kajian ini menekankan, kesucian hati dan keimanan merupakan kunci utama untuk dapat menyentuh serta memahami kandungan dan makna Al-Qur’an secara hakiki. Melalui kajian AIK Turba ini, PDM Sukoharjo berharap Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di tingkat cabang semakin kokoh dalam pemahaman keislaman yang mencerahkan, berkemajuan, dan berlandaskan dalil yang kuat. (ahmas nasri – kontributor sukoharjo)
