Menunggu waktu salat, dari satu salat ke salat berikutnya, maupun duduk di masjid setelah azan berkumandang merupakan amal ibadah yang sangat mulia dalam Islam.
Selama seseorang tetap duduk di tempat salatnya dalam keadaan suci (belum batal wudu), malaikat akan terus memohonkan ampunan dan rahmat untuknya dengan doa: “Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah, rahmatilah dia.”
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:
أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِيْ صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُوْ لَهُ الْمَلاَئِكَةُ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ
“Tidaklah seseorang di antara kalian duduk menunggu salat, selama ia berada dalam keadaan suci, melainkan para Malaikat akan mendoakannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.”
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 469 (dalam Shahih Muslim), dan juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari nomor 445 dengan redaksi yang serupa
Dalam riwayat yang lain disebutkan,
إِنَّ أَحَدَكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ، وَالمَلاَئِكَةُ تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ مَا لَمْ يَقُمْ مِنْ صَلاَتِهِ أَوْ يُحْدِثْ
“Seseorang dari kalian akan selalu dihitung berada di dalam salat selama salat itu yang mengekangnya (orang tersebut menanti salat ditegakkan). Malaikat akan mendoakan, “Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah”, selama dia belum berdiri dari tempat salatnya atau telah berhadats.” HR. Bukhari no. 3229 dan Muslim no. 649)
Berikut adalah poin-poin penting dari makna dan kandungan hadis tersebut:
- Dihitung Sedang Melaksanakan Salat
- Nilai pahala salat: Seseorang yang sedang duduk menanti salat ditegakkan akan mendapatkan keutamaan dan pahala seperti orang yang sedang mengerjakan salat, meskipun ia belum melakukan ruku’ atau sujud.
- Tertahannya dari kesibukan dunia: Salat yang ia nantikan tersebut “mengekang” atau menahan dirinya sehingga ia tidak sibuk dengan urusan dunia atau segera pulang ke rumah sebelum salat ditunaikan.
- Didoakan Langsung oleh Para Malaikat
- Doa ampunan dan rahmat: Para malaikat memohonkan kepada Allah dengan doa: “Ya Allah, ampunilah dia dan rahmatilah dia” (Allahummaghfir lahu, allahumma irhamhu).
- Keberlanjutan doa: Malaikat terus menerus memanjatkan doa ini untuk orang tersebut secara berulang-ulang.
- Syarat Agar Keutamaan Ini Terus Didapatkan
- Belum berdiri dari tempat salatnya: Keutamaan dan doa malaikat ini berlaku selama ia tetap duduk diam di tempat ia salat (atau tempat ia menunggu). Jika ia pergi atau berdiri meninggalkan tempat tersebut, maka keutamaan ini terputus.
- Belum berhadats: Keadaan suci (memiliki wudhu) harus tetap dijaga. Jika ia batal wudhunya (berhadats), maka doa malaikat tersebut terhenti sampai ia berwudhu kembali.
Allah Ta’ala telah menjadikan amal menunggu salat setelah salat sebagai sebab terhapusnya dosa dan tersucikannya hamba dari dosa-dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ
“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab, ”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu salat setelah mendirikan salat. Itulah ar-ribaath.” (HR. Muslim no. 251)
Makna umum hadis ini menunjukkan faidah keutamaan menunggu salat dan bersegera menuju ke masjid. “Menunggu” di sini mencakup menunggu datangnya waktu salat dan menunggu didirikannya salat jemaah (ketika sudah berada di dalam masjid).
Sebagaimana juga mencakup menunggu di masjid dengan hadir seawal mungkin, atau menunggu di rumah dan di pasar agar segera bisa hadir ke masjid. Hal ini karena pikiran dan hatinya selalu terikat dengan salat. Hatinya selalu hadir dan merasa diawasi, tanpa lalai dari keutamaan ibadah jasmani tersebut sedikit pun. (Lihat Daliil Al-Falihiin, 1: 366)
Sudah semestinya hidup ini tidak dijalani dengan menunda-nunda salat, tetapi mengatur hidup agar berputar mengelilingi waktu-waktu salat. Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya bukan sekadar penanda waktu, tapi penentu arah hidup. Seperti azan yang memanggil jiwa kembali ke Allah, salat adalah alarm untuk menyadarkan kita dari kelalaian.
Bagi beliau dan orang-orang yang beriman, salat bukanlah beban yang melelahkan atau penggugur kewajiban semata, melainkan sarana istirahat dan penyejuk hati (qurratu ‘ain) dari penat dan gelisah karena urusan dunia.
يَا بِلَالُ، أَقِمِ الصَّلَاةَ، أَرِحْنَا بِهَا
“Wahai Bilal, dirikanlah salat (kumandangkan iqamah), dan istirahatkanlah kami dengannya (salat).” HR. Abu Dawud (No. 4985). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitab Shahih Al-Jami’ (No. 7892) dan Shahih Abi Dawud. (*)
