Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia Prof Dr Abdul Mu’ti, MEd menghadiri dan menyampaikan materi dalam Kajian Ramadan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Universitas Muhammadiyah (UM) Jember, Sabtu (21/2/2026). Dalam kajian bertema “Menunaikan Tugas Kekhalifahan: Perspektif Pendidikan”, Prof. Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah proses membentuk manusia agar mampu menjalankan fungsi kekhalifahan di muka bumi.
“Manusia memiliki dua tugas sebagai abdullah dan khalifah. Sebagai abdullah manusia dituntut untuk tunduk dan patuh pada perintah Allah, sedangkan sebagai khalifah manusia berfungsi sebagai wakil, pemimpin, dan sebagai pengganti kehadiran Allah di muka bumi,” jelas Mu’ti yang juga menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah.
Ia menambahkan, peran khalifah mengandung otoritas yang besar sekaligus tanggung jawab yang tidak ringan, yakni menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi semesta. Meski berat, manusia tidak dibiarkan tanpa pedoman.
“Dengan tuntunan, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah, tugas kekhalifahan manusia di muka bumi akan senantiasa terarah,” tambahnya.

Menurutnya, sebagai pemimpin manusia juga mewarisi misi kenabian dalam arti menjalankan nilai-nilai profetik: menghadirkan kebaikan, menegakkan keadilan, dan membangun peradaban. Karena itu, manusia dituntut mampu mengintegrasikan peran sebagai hamba Allah, khalifah, sekaligus pelanjut nilai-nilai kenabian dalam kehidupan sosial.
Mendikdasmen menekankan bahwa tugas kekhalifahan membutuhkan kualifikasi yang mumpuni. Idealnya, seorang khalifah mampu memadukan kepemimpinan keagamaan dan pemerintahan secara seimbang. Hal tersebut, menurutnya, telah dicontohkan oleh para Khulafaur Rasyidin, yakni Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Keempat sahabat Nabi tersebut dikenal sebagai para pemimpin yang mendapat petunjuk (Khulafaur Rasyidin). Mereka tidak hanya menjalankan roda pemerintahan, tetapi juga mengemban otoritas keagamaan. Keteladanan mereka terbentuk karena kualitas pribadi yang unggul serta kedekatan mereka dengan Muhammad, yang menjadi sumber inspirasi dan teladan dalam seluruh aspek kehidupan.
“Di sinilah pendidikan mengambil peran penting. Pendidikan Muhammadiyah harus bisa melahirkan orang-orang yang menyebarkan agama dan menjadi pemimpin yang mampu membuat kebijakan yang mampu mensejahterakan masyarakat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Mu’ti menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga fitrah utama, yakni aql (akal), qalb (hati), dan dien (agama). Ia menguraikan bahwa dalam Al-Qur’an, hati disebut dengan beberapa istilah, seperti qalb, fuad, shadr, dan lubb, yang masing-masing menunjukkan dimensi kedalaman spiritual manusia.
“Jadi manusia karena ilmunya bisa menjadi khalifah karena memiliki akal,” tambahnya.
Dalam perspektif pendidikan, lanjutnya, terdapat dua fungsi utama yang harus berjalan beriringan. Pertama, fungsi konservatif, yaitu melestarikan nilai-nilai kebaikan yang telah diwariskan. Kedua, fungsi progresif, yakni membekali generasi agar mampu mengembangkan dan melanjutkan kebaikan tersebut sesuai tuntutan zaman. Islam sendiri, tegasnya, menempatkan ilmu pada posisi yang sangat tinggi, bahkan menjadi prasyarat bagi kesalehan ibadah.
“Begitu juga, hanya dengan pendidikan yang baik, memiliki ilmu, maka manusia akan bisa memimpin dengan benar. Yakni manusia yang nafsunya dibimbing dengan akal dan agama maka akan mampu menyejahterakan kehidupan dunia,” tandasnya.
Usai menyampaikan materi dalam Kajian Ramadan tersebut, Prof. Abdul Mu’ti juga meresmikan revitalisasi sejumlah sekolah Muhammadiyah di Jember. Program revitalisasi sekolah merupakan salah satu prioritas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang bertujuan merenovasi serta membangun sarana dan prasarana pendidikan, baik negeri maupun swasta, hingga ke pelosok negeri. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kualitas layanan pendidikan sekaligus mendukung lahirnya generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap menjalankan amanah kekhalifahan. (sholihin fanani)
