Meneladani Rasulullah Saw: Mengenal Lebih Dekat, Mencintai Lebih Dalam

www.majelistabligh.id -

Rasa cinta kepada Rasulullah saw tidak tumbuh secara instan, melainkan lahir dari proses mengenal rekam jejak kehidupan dan perjuangan beliau. Pengetahuan inilah yang menjadi fondasi utama bagi umat Islam untuk mampu meneladani akhlak mulia Sang Nabi secara utuh.

Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta, Hendra Darmawan, dalam kajian rutin di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (4/10/2026).

Membuka kajiannya, Hendra mengutip sabda Nabi saw, al-mar’u ma‘a man aḥabba, yang menegaskan bahwa seseorang kelak akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya di akhirat.

“Jika kita sungguh-sungguh mencintai Rasulullah, kelak kita akan dihimpun bersama beliau. Cinta ini juga patut kita salurkan kepada para ulama, orang-orang saleh, dan pejuang Islam yang ikhlas,” tutur Hendra.

Tak hanya soal cinta, Hendra menggarisbawahi pentingnya menjaga iklim pertemanan dengan merujuk hadis al-mar’u ‘alā dīni khalīlihi. Menurutnya, kelompok pertemanan (circle), komunitas, hingga grup percakapan sehari-hari sangat memengaruhi cara seseorang menjalankan agamanya.

“Pilihlah lingkungan pertemanan yang mampu menggugah semangat keislaman kita. Ketika kita terbiasa berada di majelis ilmu, mengaji, dan bertadabur Al-Qur’an, kebiasaan positif itu akan membentuk karakter beragama kita,” jelasnya.

Mengenal untuk Mencintai

Menjelaskan konsep ma‘iyyah (kebersamaan), Hendra menekankan bahwa setiap muslim hendaknya selalu merasa diawasi Allah (muraqabah). Kesadaran ini dapat dipadukan dengan upaya mendekatkan diri kepada Nabi melalui pemahaman sejarah hidup beliau (sirah nabawiyah).

“Al-ḥubbu yanmū bil-ma‘rifah—cinta itu tumbuh karena pengetahuan. Sebagaimana pepatah ‘tak kenal maka tak sayang’, membaca karya-karya sejarah kenabian membantu kita memahami keistimewaan pribadi dan beratnya perjuangan beliau,” ujarnya.

Hendra memaparkan keberanian Rasulullah saw yang selalu berada di garis depan saat memimpin pertempuran, serta kedermawanannya yang tanpa batas demi melayani sesama dan membela Islam.

Lebih jauh, ia mengingatkan pesan Nabi untuk senantiasa menyambung tali silaturahmi (ṣil man qaṭa‘aka), memberi kepada yang enggan memberi (a‘ṭi man ḥaramaka), serta memaafkan orang yang menzalimi (‘fu ‘amman ẓalamaka).

“Prinsip ini melampaui ego manusia pada umumnya. Membalas kezaliman dengan kezaliman hanya akan melahirkan lingkaran masalah baru,” tegas Hendra.

Hendra mengisahkan keteguhan Nabi saat menghadapi pemboikotan ekonomi oleh kaum Quraisy di Syi’ib Abu Thalib. Meski dihantam tekanan berat dan penolakan akibat keangkuhan jahiliah (ḥamiyyat al-jāhiliyyah), Allah tetap menurunkan ketenangan (sakinah) kepada Rasulullah dan para pengikutnya.

“Ketenangan sejati datang dari Allah, bukan dari kekuatan atau tekanan manusia. Dari keteguhan beliaulah kita belajar bagaimana bertahan di atas kebenaran,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search