Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan agama yang mengatur tatanan sosial demi terciptanya harmoni di tengah kehidupan masyarakat. Salah satu pilar utama dalam bangunan sosial Islam adalah Silaturahmi. Secara etimologis, silaturahmi berasal dari kata shilah (sambungan) dan ar-rahim (kasih sayang/rahim wanita). Maka, silaturahmi secara mendalam berarti menyambung kembali ikatan yang terputus dan mempererat kasih sayang di antara sesama manusia, khususnya sanak saudara.
Dalam perkembangannya, terutama di era digital, makna silaturahmi sering kali tereduksi menjadi sekadar interaksi di media sosial. Padahal, esensi silaturahmi melibatkan kehadiran hati, bantuan nyata, dan ketulusan jiwa yang memiliki dimensi ukhrawi yang sangat besar.
Allah SWT menempatkan perintah bersilaturahmi berdampingan dengan perintah bertakwa. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan seseorang tidak sempurna jika ia memutus hubungan dengan sesamanya. Ketaqwaan seseorang tidaklah bersifat individualistik, namun juga berdimensi sosial. Oleh karenanya, ketaqwaan seseorng sudah semestinya mewujud dengan kegemarannya bersilaturrahmi. Dengan kata lain, orang yang bertaqwa adalah orang yang senang menjalin hubungan silaturahmi. Baik terhadap keluarga dekat, jauh ataupun dengan orang lain sekalipun.
Dalam pembukaan Surah An-Nisa, Allah menegaskan pentingnya menjaga hubungan silaturrahim.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya: “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki yang banyak dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan (silaturahmi). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa: 1)
Dan sebaliknya, mereka yang merusak hubungan kekeluargaan disebut sebagai golongan yang rugi dan mendapat laknat. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam al Qur`an Surat Muhammad berikut:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ . أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَىٰ أَبْصَارَهُمْ
Artinya: “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah; lalu dibuat pekak (pendengarannya) dan dibutakan penglihatannya.” (QS. Muhammad: 22-23)
Rasulullah SAW memberikan dorongan pada ummatnya untuk senantiasa melakukan silaturrahmi mengingat manfaatnya luar biasa baik pada dataran praktis maupun spiritual dari silaturahmi. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari & Muslim)
Para ulama menjelaskan bahwa “panjang umur” di sini bisa berarti umur yang diberkahi sehingga ia mampu melakukan banyak kebaikan, atau memang ditambah secara hakiki dalam catatan takdir muallaq.
Silaturahmi merupakan salah satu indikator keimanan seseorang. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Rasulallah SAW:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka sambunglah tali silaturahmi.” (HR. Bukhari)
Menelusuri keagungan silaturahmi membawa kita pada pemahaman tentang betapa luasnya dampak positif ibadah ini. Diantaranya; 1) mendekatkan diri kepada Allah SWT, 2) sebagai pembersih amal dan penolak balak, dan 3) sebagai kekuatan sosial.
Silaturahmi bukan hanya mendatangi orang yang baik kepada kita. Tantangan terbesarnya adalah menyambung hubungan dengan mereka yang menjauhi kita. Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
Artinya: “Penyambung silaturahmi bukanlah orang yang membalas kebaikan orang lain, tetapi penyambung silaturahmi adalah orang yang jika hubungan kekeluargaannya diputus, ia menyambungnya kembali.” (HR. Bukhari)
Lantas, bagaimana cara melakukan silaturrahmi? Ada beberapa cara yang dapat dilakukan diantaranya;
- Ziarah (Berkunjung), yakni bertatap muka secara langsung untuk mempererat ikatan emosional.
- Pemberian (Sedekah): memberikan hadiah atau bantuan finansial kepada kerabat yang membutuhkan.
- Komunikasi: bertanya kabar melalui media komunikasi jika jarak menghalangi.
- Mendoakan: mendoakan kebaikan bagi keluarga dan saudara tanpa sepengetahuan mereka.
Islam memberikan peringatan keras agar kita tidak menjadi orang yang angkuh dan memutus tali persaudaraan. Rasulullah SAW menegaskan:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (tali silaturahmi).” (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa memutus silaturahmi adalah dosa besar (kaba’ir) yang dapat menghalangi seseorang untuk menikmati indahnya surga di awal waktu.
Keagungan silaturahmi terletak pada kemampuannya menyatukan hati yang bercerai-berai dan melunakkan jiwa yang keras. Di tengah kesibukan duniawi, luangkanlah waktu untuk menoleh kembali kepada orang tua, saudara kandung, kerabat jauh, dan sesama Muslim.
Dengan bersilaturahmi, kita tidak hanya membangun jalinan kemanusiaan di dunia, tetapi juga sedang menanam benih-benih keberkahan yang akan kita petik di akhirat kelak. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai menjaga amanah rahim dan mengumpulkan kita semua dalam naungan rahmat-Nya.(*)
