Mengejar Mahkota Ketakwaan di Bulan Suci

Mengejar Mahkota Ketakwaan di Bulan Suci
*) Oleh : Hanif Asyhar, M. Pd
Trainer Spirirtual Healthy Parenting dan Konsultan Pengembang Pendidikan.
www.majelistabligh.id -

Ramadan bukan sekadar pergantian siklus makan dan minum. Bagi seorang hamba yang mencari ridha-Nya, Ramadan merupakan samudera kesempatan untuk menyucikan jiwa yang telah lam berdebu oleh dosan dan rutinitas duniawi.

Maka yang harus dicari pada bulan suci Ramadan ini adalah maghfirah (ampunan) serta tazkiyatun Nafs (penyucian diri), hingga nanti selepas bulan suci keluar menjadi pribadi yang bertakwa.

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah SWT, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari dan Muslim).

Di bulan suci yang penuh keberkahan ini, maka kita harus berusaha untuk mendapatkan ketenangan hati melalui Al-Qur’an serta mempererat hubungan sosial dengan masyarakat. Hal ini penting untuk diusahakan dengan cara:

Konsisten membaca (Tadarus) Al-Qur’an.

Membaca Al-Qur’an tidak sekadar dapat khatam tiap hari, tetapi harus berusaha memahami satu ayat per hari agar hati lebih hidup dan mendapatkan ketenangan.

Bersedekah secara senyap

Bulan suci Ramadan menjadi sebuah momentum perbaikan diri agar lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya, termasuk dalam bersedekah. Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW; beliau adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi di bulan Ramadan.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling dermawan. Beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadan ketika ditemui Jibril. Jibril menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan, lalu mempelajari Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah ﷺ lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari no. 3220 & Muslim no. 2308).

Iktikaf di 10 hari terakhir.

Mendapatkan Lailatul Qadar merupakan salah satu hal yang diharapkan oleh setiap Muslim, sehingga banyak di antara para kaum Muslimin banyak memfokuskan waktu iktikaf di masjid.

Karena begitu mulianya malam Lailatul Qadar ini sebagaimana firman Allah SWT dalam sura Al-Qadr ayat 3:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. ( Al-Qadr :3).

Oleh karena itu Ramadan merupakan madrasah, sehingga yang kita cari selama Ramadan adalah adanya perubahan kebiasaan,menjadi lebih jujur,lebih baik,lebih sabar, serta lebih peduli. Harapannya Ramadan ini dapat menjadi titik balik, di mana lapar dan dahaga menjadi jembatan menuju ketundukan mutlak kepada Sang Khaliq Allah SWT, bukan sekadar memindahkan jam makan semata. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search