Menggali Sejarah atau Meruntuhkan Aqsha? Kontroversi Terowongan Israel

Menggali Sejarah atau Meruntuhkan Aqsha? Kontroversi Terowongan Israel
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SMP Al Fatah Sidoarjo & Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Masjidil Aqsha adalah masjid ketiga paling suci dalam Islam, setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Allah mengabadikan kemuliaannya dalam Al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isrā’: 1).

Ayat ini menunjukkan bahwa Aqsha bukan sekadar bangunan bersejarah, tetapi tanda kekuasaan Allah dan simbol keberkahan umat Islam.

Namun, sejak lama muncul isu sensitif: penggalian yang dilakukan Israel di bawah dan sekitar Masjidil Aqsha. Apakah ini sekadar penelitian arkeologi ataukah ada agenda politik dan religius tersembunyi?

Dalih Arkeologi dan Wisata Sejarah

Israel melalui Israel Antiquities Authority selalu menyatakan bahwa proyek penggalian adalah upaya mengungkap sejarah kuno Yerusalem. Fokus utamanya adalah menemukan bukti First Temple (Bait Suci Nabi Sulaiman) dan Second Temple (Bait Suci Herodes).

Beberapa jalur terowongan bahkan dibuka untuk umum, seperti City of David Tunnel dan Western Wall Tunnel. Narasi resmi menyebut proyek ini bertujuan edukasi sejarah, pelestarian budaya, dan pariwisata religius.

Kekhawatiran Umat Islam dan Palestina

Bagi Muslim Palestina, hal ini bukan sekadar riset. Mereka menilai ada agenda Yudaifikasi Yerusalem. Banyak laporan menyebut penggalian telah menyebabkan retakan pada bangunan tua, rumah warga di Silwan, bahkan sebagian struktur Masjidil Aqsha.

Presiden Mahmoud Abbas pernah menyebut:

“Apa yang dilakukan Israel adalah upaya sistematis untuk menghapus identitas Arab-Islam Yerusalem dan menggantinya dengan klaim sejarah palsu.”

Lembaga Waqf Islamiyah menegaskan bahwa setiap penggalian tanpa izin adalah pelanggaran hukum internasional, dan berpotensi melemahkan fondasi masjid.

Pandangan Dunia Internasional

UNESCO dalam resolusi tahun 2016 menegaskan:

“Israeli excavations and works in and around the Old City of Jerusalem are illegal under international law and endanger the integrity of Al-Aqsa Mosque.”

Pernyataan keras ini menunjukkan bahwa dunia internasional pun menyadari adanya ancaman serius dari penggalian tersebut.

Bahkan arkeolog Israel sendiri, Raphael Greenberg, mengkritik:

“Archaeology in Jerusalem has become a political tool, often used to legitimize territorial claims, rather than an honest scientific pursuit.”

Dimensi Religius: Bayangan Bait Suci Ketiga

Kelompok Zionis religius seperti Temple Mount Faithful secara terbuka menyatakan mimpinya membangun Bait Suci Ketiga. Mereka meyakini penggalian arkeologi adalah langkah awal menuju cita-cita itu.

Bagi umat Islam, hal ini adalah ancaman nyata. Rasulullah bersabda:

لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Tidak boleh melakukan perjalanan khusus (untuk beribadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa Aqsha memiliki keutamaan agung, sehingga segala ancaman terhadapnya adalah ancaman terhadap simbol iman umat Islam.

Analisis: Misi yang Paling Mungkin

Jika melihat fakta di lapangan, misi Zionis melalui penggalian ini kemungkinan besar meliputi:

1. Legitimasi Sejarah Yahudi

Dengan menemukan artefak kuno, Israel memperkuat klaim bahwa Yerusalem adalah pusat sejarah Yahudi.

2. Yudaifikasi Yerusalem

Mengubah identitas kota dari Arab-Islam menjadi Yahudi-Israel, termasuk dengan narasi wisata arkeologi.

3. Persiapan Ideologis Bait Suci Ketiga

Meskipun belum nyata, gagasan ini hidup di kalangan Zionis religius dan mendapat dukungan politik sayap kanan Israel.

4. Pelemahan Aqsha secara Fisik

Retakan dan kerusakan pada bangunan tua memperkuat dugaan bahwa penggalian secara perlahan bisa melemahkan struktur masjid.

Penggalian di bawah Masjidil Aqsha adalah isu multidimensi: arkeologi, politik, agama, sekaligus simbol identitas. Israel mungkin mengklaim sebagai penelitian sejarah, tetapi dampak nyata dan motif tersembunyinya jelas: legitimasi politik dan persiapan religius menuju penguasaan penuh atas Yerusalem.

Masjidil Aqsha bukan hanya milik Palestina, tetapi milik seluruh umat Islam. Menjaganya berarti menjaga warisan Nabi dan simbol kesucian agama.

Referensi

  • Al-Qur’an, QS. Al-Isra’:1.
  • HR. Bukhari & Muslim, Kitab al-Masajid.
  • UNESCO, Decisions on the Old City of Jerusalem (2016).
  • Raphael Greenberg, Archaeology, Politics and the City of David in Jerusalem (2009).
  • Al Jazeera, What’s Driving Israeli Excavations under Al-Aqsa Mosque? (2021).
  • Palestinian Information Center (2023).

 

Tinggalkan Balasan

Search