Menghargai Diri sebagai Anugerah Allah

www.majelistabligh.id -

*) Oleh: Ferry Is Mirza DM

Islam mengajarkan bahwa menyalahkan diri sendiri tidaklah dianjurkan. Sebaliknya, Islam mengajarkan untuk menghargai diri sendiri dan percaya pada kemampuan yang telah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berikan.

Aisyah RA menuturkan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Janganlah salah seorang di antara kamu berkata khobusat nafsi (diriku buruk), tetapi katakanlah laghisat nafsi (diriku kurang).”(HR. Muslim)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam selalu mengajarkan kepada umatnya agar menggunakan istilah yang paling baik dalam setiap percakapan.

Dalam pandangan Islam, penggunaan kata-kata yang baik dapat memengaruhi pola pikir seseorang. Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk menghindari ucapan kasar atau negatif, baik terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain.

Namun demikian, penting untuk menjaga keseimbangan. Jangan sampai rasa percaya diri berubah menjadi kebanggaan yang berlebihan, sehingga menimbulkan sifat sombong dan menganggap rendah orang lain.

Kepercayaan diri yang baik adalah kepercayaan diri yang didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Percaya diri yang sejati bukanlah sekadar meyakini kemampuan diri, tetapi juga menyadari bahwa semua potensi dan keberhasilan adalah pemberian dari Allah.

Dengan mengembangkan potensi yang telah Allah anugerahkan, seseorang bisa mencapai hasil terbaik tanpa melupakan siapa sumber dari segala karunia tersebut.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah menyukai seseorang di antara kamu melakukan pekerjaan dengan itqan (kualitas yang baik).”(HR. Bukhari Muslim)

Hadis ini mengajarkan kita untuk selalu berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan setiap tugas yang diemban, sebagai wujud syukur atas nikmat yang Allah berikan.

Bayangkan seorang pelajar yang sedang menghadapi ujian. Dengan mengingat bahwa Allah telah memberikan kemampuan dan akal untuk belajar, pelajar tersebut seharusnya merasa percaya diri.

Namun, rasa percaya diri ini harus diiringi dengan doa dan usaha sungguh-sungguh. Jika hasilnya memuaskan, ia bersyukur kepada Allah. Jika tidak sesuai harapan, ia tetap introspeksi diri tanpa merendahkan martabatnya sendiri.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah ayat 286). Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap kemampuan yang kita miliki adalah sesuai dengan takdir Allah.

“Setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Muslim). Hadis ini mengajarkan pentingnya niat yang benar dalam segala usaha kita.

Percaya diri dalam Islam adalah sebuah keutamaan yang harus disertai dengan rasa syukur dan kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah.

Jangan lupa untuk terus mengembangkan potensi, memperbaiki diri, dan menghindari sikap sombong. Dengan demikian, kita tidak hanya mencapai keberhasilan duniawi tetapi juga keberkahan ukhrawi. (*)

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

Tinggalkan Balasan

Search