Menghidupkan Dakwah yang Mencerahkan

Menghidupkan Dakwah yang Mencerahkan
www.majelistabligh.id -

“Jadi mubaligh itu jangan egois yang memaksa umat menurut apa kata mubaligh. Justru sebaliknya, mubaligh harus menyesuaikan dengan kebutuhan umat.” Kiai Drs. Nadjih Ihsan.

***

Dunia dakwah kontemporer menuntut para penceramah untuk tidak sekadar berbicara di atas mimbar, melainkan hadir sebagai jembatan solusi di tengah dinamika umat. Kesadaran inilah yang mengemuka dalam gelaran Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) Zona Dakwah Malang Raya yang dihelat di Apple Sun Learning Center, Kota Batu, Sabtu (31/10/2026).

Acara yang diinisiasi untuk memperkuat kapasitas para juru dakwah ini menghadirkan Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim, Kiai Drs. Nadjih Ihsan, sebagai pemateri. Di hadapan para peserta, ia menekankan bahwa seorang mubaligh sejati harus senantiasa dahaga akan ilmu pengetahuan. Membaca buku yang baik adalah fondasi awal, namun ilmu tersebut tidak boleh berhenti pada diri sendiri.

“Ilmu didapat, jangan berhenti di situ, tetapi terus ditularkan pada umat. Itulah yang dinamakan dakwah,” tegas Kiai Nadjih di hadapan puluhan peserta.

Sebagai bekal konkret, ia membagikan tiga rekomendasi kitab rujukan bagi para mubaligh, yaitu Kitab Tauhid Pemurnian Ibadah kepada Allah karya Syaikh Muhammad at-Tamimi, Jalan Golongan yang Selamat karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, serta Ulasan Tuntas tentang 3 Prinsip Pokok karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

Ketiga kitab ini dinilai krusial untuk memperkokoh fondasi tauhid—landasan utama yang juga selalu ditekankan oleh Rasulullah saw dalam memulai risalah dakwahnya, serta sejalan dengan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Muhammadiyah.

Lebih lanjut, mubaligh yang telah malang melintang di dunia dakwah selama lebih dari empat dekade ini mengingatkan pentingnya kepekaan sosial. Wilayah Malang Raya, menurutnya, masih menyimpan banyak ruang dan umat yang membutuhkan sentuhan dakwah pencerahan.

“Jika tidak kita isi, maka akan diisi orang lain,” tandasnya mengingatkan urgensi kaderisasi dan militansi dakwah.

Refleksi dan Karakter Mubaligh Berkemajuan

Menyadari tantangan zaman yang kian kompleks, penguatan mubaligh tidak lepas dari proses refleksi—sebuah perenungan mendalam untuk mengevaluasi pengalaman demi mencapai pemahaman diri, pembelajaran optimal, serta peningkatan kualitas komunikasi dengan masyarakat.

Bagi Muhammadiyah, seorang mubaligh bukan sekadar penyampai pesan keagamaan, melainkan representasi wajah Islam di tengah masyarakat yang heterogen. Oleh karena itu, karakter luhur menjadi harga mati. Mubaligh Muhammadiyah dituntut memiliki keteguhan pendirian yang dibalut keleluasaan pandangan, kesantunan, kelapangan jiwa, serta sikap toleran dalam menghadapi perbedaan.

Karakter tersebut juga harus dibarengi dengan langkah strategis bagi mubaligh berkemajuan. Mulai dari fokus mendalami bidang ilmu tertentu, memahami karakteristik audiens (mad’u) berdasarkan strata sosial dan usia, hingga mendokumentasikan setiap materi dakwah secara sistematis.

Dengan pendekatan yang komunikatif, produktif, serta berakar kuat pada nilai tauhid yang bersih dari unsur syirik, tahayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), dakwah Muhammadiyah diyakini akan terus konsisten membawa misi yang mencerahkan, menggembirakan, dan menggerakkan umat menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. ||chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search