Menghidupkan Filsafat, Meneguhkan Tajdid Muhammadiyah

Menghidupkan Filsafat, Meneguhkan Tajdid Muhammadiyah
*) Oleh : Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I.
Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim & Pengurus ICMI ORWIL Jatim & Wadir Sekolah Pascasarjana UMSURA.
www.majelistabligh.id -

Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan Islam yang membawa semangat pembaruan (tajdid). Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan, organisasi ini tidak sekadar mengajarkan agama, tetapi juga membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai institusi sosial.

Namun, di tengah keberhasilan membangun amal usaha, ada pertanyaan mendasar yang layak direnungkan: sejauh mana tradisi berpikir filosofis tumbuh dalam kehidupan intelektual jemaah Muhammadiyah?

Pertanyaan ini penting karena kemajuan institusi tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan pemikiran. Organisasi dapat berkembang secara administratif, ekonomi, dan kelembagaan, tetapi berisiko mengalami kebekuan apabila warganya kehilangan keberanian untuk mempertanyakan asumsi, menguji argumentasi, dan menafsirkan perubahan zaman secara kritis.

Di sinilah filsafat menemukan relevansinya.

Filsafat bukan musuh agama, apalagi jalan untuk menjauh dari Al-Qur’an dan Sunah. Filsafat merupakan tradisi berpikir yang mengajak manusia menguji dasar keyakinan, menimbang alasan, dan memahami persoalan secara mendalam.

Beragama tidak cukup hanya dengan mengetahui apa yang harus diyakini, tetapi juga membutuhkan kemampuan memahami mengapa keyakinan itu penting dan bagaimana nilai-nilainya diwujudkan dalam kehidupan.

Dalam konteks Muhammadiyah, penguatan tradisi filsafat justru merupakan bagian dari implementasi tajdid. Pembaruan tidak akan berjalan apabila pemikiran hanya mengulang jawaban lama untuk persoalan baru. Semangat ijtihad membutuhkan keberanian intelektual, keterbukaan terhadap pengetahuan, dan kesediaan mengevaluasi pemahaman yang selama ini dianggap mapan.

Tradisi tarjih Muhammadiyah sesungguhnya menyediakan ruang bagi ikhtiar tersebut. Penggunaan argumentasi, pertimbangan kemaslahatan, dan pembacaan terhadap konteks menunjukkan bahwa keberagamaan tidak berhenti pada pengutipan teks, tetapi juga melibatkan kerja intelektual. Filsafat dapat memperkuat proses itu dengan mempertajam logika, memperjelas konsep, dan menguji konsistensi argumentasi keagamaan.

Lebih jauh, filsafat diperlukan untuk memperluas cakrawala keilmuan warga Muhammadiyah. Persoalan kontemporer tidak dapat diselesaikan hanya dengan jawaban normatif. Ketimpangan ekonomi, manipulasi politik, krisis lingkungan, disinformasi digital, dan polarisasi sosial menuntut kemampuan membaca struktur persoalan, bukan sekadar menghakimi gejalanya.

Tanpa daya kritis, agama berisiko diperalat untuk membenarkan kepentingan kekuasaan, sementara dakwah kehilangan keberanian menyuarakan keadilan. Sebaliknya, tradisi berpikir filosofis memungkinkan warga Muhammadiyah membedakan antara kepentingan umat dan kepentingan elite, antara kebenaran argumentatif dan popularitas, serta antara kesalehan simbolik dan tanggung jawab sosial.

Filsafat juga mengajarkan kerendahan hati epistemologis: kesadaran bahwa pengetahuan manusia terbatas dan pemahaman seseorang tidak selalu menjadi satu-satunya kemungkinan yang benar. Sikap ini penting untuk membangun keterbukaan terhadap perbedaan. Berbeda pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan, sebagaimana kritik tidak semestinya langsung dicurigai sebagai pembangkangan.

Tentu, filsafat tidak boleh berhenti sebagai mata kuliah di perguruan tinggi atau menjadi kemewahan akademik kalangan elite. Tradisi ini perlu dihidupkan melalui pengajian, diskusi ranting, kaderisasi, literasi publik, dan pendidikan keluarga. Warga perlu dibiasakan bertanya, berdialog, memeriksa sumber informasi, dan menyampaikan kritik dengan argumentasi yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, tantangan Muhammadiyah bukan sekadar memperbanyak amal usaha, melainkan memastikan bahwa amal usaha tersebut ditopang oleh daya hidup intelektual. Tajdid bukan ritual mengenang pembaruan masa lalu, melainkan keberanian memperbarui cara berpikir pada masa kini.

Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan Islam berkemajuan apabila mampu memadukan kesalehan, ilmu pengetahuan, dan keberanian berpikir kritis. Sebab, ketika tradisi bertanya melemah, agama mudah terjebak dalam pengulangan; ketika filsafat dihidupkan, tajdid memperoleh tenaga untuk menjawab masa depan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search