Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW sering kali dirayakan dengan penuh sukacita dan tradisi. Namun, dibalik seremonial yang meriah, muncul sebuah pertanyaan mendasar: bagaimana peringatan ini dapat relevan dan memberikan dampak nyata bagi kemajuan umat di era modern? Kontekstualisasi Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran seorang manusia agung, melainkan upaya untuk menghidupkan kembali spirit kenabian yang transformatif di tengah tantangan zaman.
Peringatan maulid Nabi SAW diharapkan bukan hanya sebatas seremonial yang kering tanpa makna dan aksi nyata dalam zaman yang kian kompleks dimana ummat Islam membutuhkan pencerahan dan spirit untuk bangkit dari keterpurukan. Apalagi negara-negara Islam saat ini tengah mengalami agresi -Palestina, Suriah, Yaman- dari negara lain yang membutuhkan solidaritas dan kebersaaan untuk berjuang melawannya.
Belum lagi, negara -negara Islam juga tengah berjuang mengentaskan kemiskinan dan kebodohan. Tentu sangat mengaharapkan energi untuk bangkit agar ummat kian maju dan sejahtera serta sejajar dengan negara lain yang lebih maju. Pada konteks lebih luas, adanya peringatan maulid Nabi SAW juga diharapkan akan membangkitkan semangat belajar, menghidupkan tradisi keilmuan untuk membangun peradaban Islam yang maju seperti pernah dicapai pada zaman keemasan. Untuk itu, tulisan ini akan membahas bagaimana kita dapat mengkontekstualisasikan peringatan maulid Nabi untuk kemajuan umat.
Pertama, maulid nabi SAW sebagai momentum introspeksi dan reorientasi. Maulid Nabi adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan kembali ajaran dan akhlak Rasulullah SAW sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab ayat 21: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Ayat ini menegaskan bahwa pribadi Nabi Muhammad SAW adalah model ideal (uswatun hasanah) bagi seluruh umat manusia. Di era digital ini, umat Islam dihadapkan pada arus informasi yang tak terkendali, tantangan moral, dan disrupsi sosial.
Oleh karena itu, peringatan Maulid harus menjadi momentum reorientasi untuk kembali kepada nilai-nilai luhur yang diajarkan Nabi: kejujuran, integritas, kasih sayang, dan keadilan. Bukan sekadar merayakan, kita harus bertanya pada diri sendiri: “Sejauh mana kita telah meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, dalam interaksi sosial, dan dalam kontribusi kita terhadap masyarakat?”
Kedua, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Sering kali, umat Islam terjebak dalam dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Padahal, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.”
Hadis ini tidak membatasi jenis ilmu yang harus dipelajari. Di masa lalu, ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Al-Biruni adalah pionir dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka meneladani semangat keilmuan yang diajarkan oleh Nabi.
Kontekstualisasi Maulid Nabi di masa kini berarti menghidupkan kembali tradisi keilmuan Islam yang berorientasi pada kemajuan. Umat Islam harus proaktif dalam menguasai sains, teknologi, kedokteran, dan bidang-bidang inovatif lainnya. Peringatan Maulid seharusnya memotivasi kita untuk mendirikan pusat-pusat penelitian, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi kemanusiaan, sebagai bentuk nyata dari pengamalan sunnah.
Ketiga, membangun semangat persatuan. Peringatan Maulid Nabi juga harus menjadi refleksi atas perjuangan beliau dalam mempersatukan umat. Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Arab hidup dalam perpecahan dan permusuhan antarsuku. Nabi Muhammad SAW datang membawa pesan persaudaraan dan perdamaian. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali-Imran ayat 103: “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara…”
Di era modern, umat Islam menghadapi tantangan polarisasi, baik karena perbedaan mazhab, politik, maupun pandangan sosial. Peringatan Maulid dapat menjadi jembatan untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa).
Dengan meneladani akhlak toleransi dan kasih sayang Nabi, kita harus meruntuhkan sekat-sekat perpecahan dan membangun dialog yang konstruktif dengan sesama muslim dan juga dengan umat beragama lain. Maulid harus menjadi perayaan yang merangkul, bukan memisah-misahkan.
Keempat, ekonomi kreatif dan kemandirian umat. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang yang jujur dan sukses. Beliau mengajarkan pentingnya kemandirian ekonomi. Peringatan Maulid dapat dikontekstualisasikan untuk mendorong ekonomi kreatif dan kemandirian umat. Kita dapat mengambil inspirasi dari etos kerja Rasulullah yang produktif dan berintegritas. Rasulallah SAW bersabda: “Barangsiapa yang di sore hari merasa kelelahan karena bekerja dengan tangannya sendiri, maka dia akan diampuni dosa-dosanya pada sore itu.” (HR. Thabrani)
Hadis ini mendorong kita untuk bekerja keras dan mandiri secara ekonomi. Kontekstualisasi Maulid Nabi bisa dilakukan dengan mengadakan seminar kewirausahaan, pameran produk-produk halal, atau pelatihan-pelatihan keterampilan bagi generasi muda. Umat Islam harus menjadi pelaku ekonomi yang tangguh, bukan hanya sebagai konsumen. Dengan demikian, Maulid tidak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga perayaan produktivitas dan kemandirian umat.
Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa kontekstualisasi peringatan Maulid Nabi SAW di masa kini adalah sebuah keharusan. Ini adalah upaya untuk mengubah perayaan yang cenderung ritualistik menjadi sebuah gerakan yang transformatif. Bukan sekadar bershalawat dan berceramah, tetapi lebih jauh, Maulid harus menjadi momentum untuk introspeksi diri dan meneladani akhlak Rasulullah, membangkitkan semangat keilmuan dan inovasi, memperkuat persatuan, dan mendorong kemandirian ekonomi umat.
Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi SAW tidak lagi hanya menjadi sebuah acara tahunan, melainkan menjadi sumbu penggerak kemajuan umat diberbagai sektor kehidupan. Ini adalah cara terbaik untuk menghormati Nabi Muhammad SAW yakni dengan menghidupkan kembali ajaran dan spirit beliau dalam setiap langkah kita. (*)
