*) Oleh: Muhammad Nashihudin, MSi
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ اِلَى اللّٰهِ ۚ وَا للّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.”
(QS. Fatir 35: Ayat 15)
Bakhil adalah sifat yang tidak terpuji dalam Islam. Bakhil berarti kikir atau tidak mau memberikan sesuatu kepada orang lain, terutama dalam hal yang berkaitan dengan harta atau kekayaan.
Akibat Bakhil
1. Kehilangan Berkah: Orang yang bakhil akan kehilangan berkah dari Allah SWT.
2. Kesulitan dalam Hidup: Orang yang bakhil akan mengalami kesulitan dalam hidup, karena mereka tidak mau memberikan sesuatu kepada orang lain.
3. Tidak Disukai Orang Lain: Orang yang bakhil tidak akan disukai oleh orang lain, karena mereka tidak mau membantu atau memberikan sesuatu kepada orang lain.
4. Kehilangan Pahala: Orang yang bakhil akan kehilangan pahala dari Allah SWT, karena mereka tidak mau melakukan kebaikan kepada orang lain.
Cara Menghindari Sifat Bakhil
1. Membiasakan Diri untuk Berbagi: Membiasakan diri untuk berbagi dengan orang lain, terutama dalam hal yang berkaitan dengan harta atau kekayaan.
2. Mengingat Allah SWT: Mengingat Allah SWT dan kehidupan akhirat, sehingga kita tidak terlalu memikirkan harta atau kekayaan dunia.
3. Mengembangkan Akhlak yang Baik: Mengembangkan akhlak yang baik, seperti dermawan, peduli, dan suka membantu orang lain.
4. Membaca Al-Qur’an dan Hadits: Membaca Al-Qur’an dan hadis untuk memahami ajaran Islam tentang pentingnya berbagi dan tidak bakhil.
Adapun akhlak mulia seorang muslim adalah mau berbagi dan peduli terhadap lingkungan dan sesama muslim. Allah SWT Maha Kaya dan Maha Kuasa sedangkan manusia kekayaannya sangat terbatas dan tidak berdaya.
Sifat Bakhil akan berdampak buruk pada pelakunya yang mana harta kekayaannya akan habis karena penyakit-penyakit atau diambil orang secara paksa.
Mentadabburi ayat ayat berikut ini untuk mendapatkan rida-Nya dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Ancaman terhadap orang orang yang kufur dan bakhil
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ هُوَ خَيْـرًا لَّهُمْ ۗ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۗ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهٖ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَ لِلّٰهِ مِيْرَا ثُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
“Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 180)
2. Larangan untuk menyuruh orang orang berbuat kikir
ٱلَّذِيْنَ يَـبْخَلُوْنَ وَيَأْمُرُوْنَ النَّا سَ بِا لْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَاۤ اٰتٰٮهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ وَ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَا بًا مُّهِيْنًا
“(yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 37)
