Mengingat Kematian sebagai Motivasi untuk Terus Berkarya

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Moch. Muzaki
Kabid TKK IMM Jawa Timur

Akhir-akhir ini, kita semakin sering disuguhkan berita duka yang viral di media sosial. Mulai dari satu keluarga yang meninggal dunia akibat tanah longsor, keluarga lain yang wafat saat mengantar keberangkatan umrah, hingga dua orang yang tewas tertabrak kereta usai berbelanja. Arus informasi yang cepat saat ini membuat kita semakin mudah mengakses berbagai peristiwa bencana, kecelakaan, maupun kematian.

Kondisi tersebut sepatutnya menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Kematian bisa datang kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apa pun. Tidak menutup kemungkinan, kitalah yang akan menjadi berikutnya, entah karena sakit, kecelakaan, atau bahkan saat sedang bekerja. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Jumu’ah: 8:

Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya ia akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’”

Kematian adalah takdir pasti dari Sang Pencipta bagi setiap makhluk yang bernyawa. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Ankabut: 57:

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.”

Potensi menuju kematian bisa terjadi dalam berbagai cara—melalui kecelakaan, penyakit, bahkan ketika menjalani aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, mengingat kematian merupakan bentuk kewaspadaan yang melatih kesadaran spiritual kita, sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Hidup ini sejatinya merupakan jembatan menuju kehidupan abadi di akhirat.

Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk senantiasa memperhatikan kehidupan akhirat tanpa melalaikan tanggung jawab di dunia. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Hasyr: 18:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan dunia adalah ladang untuk menanam amal, yang kelak akan kita panen di akhirat. Namun, ini bukan berarti kita boleh mengabaikan keberhasilan duniawi. Allah SWT juga mengingatkan dalam QS. Al-Qashash: 77:

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Mengingat kematian juga membuat kita lebih waspada dalam setiap tindakan, karena semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Allah SWT berfirman dalam QS. Az-Zalzalah: 1–8, yang mengingatkan bahwa sekecil apa pun amal baik atau buruk akan diperlihatkan dan dibalas:

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Kesadaran akan kematian hendaknya menjadi motivasi bagi kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita dianjurkan memperbanyak ibadah, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial. Hidup yang kita jalani setiap hari jangan sampai berlalu tanpa makna dan amal.

Kesibukan kita dalam belajar, bekerja, maupun berorganisasi, dapat menjadi ladang pahala apabila diniatkan karena Allah SWT. Seorang muslim yang bekerja dengan amanah dan menjadikan pekerjaannya sebagai sarana ibadah, akan memperoleh ganjaran kebaikan. Allah dan Rasul-Nya pun sangat mencintai orang-orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.

Dalam dunia organisasi, jabatan atau tanggung jawab yang kita emban seharusnya dipandang sebagai amanah dan sarana dakwah. Ketika kita menjalankan organisasi dengan serius dan bertanggung jawab, maka akan banyak manfaat dan amal jariyah yang bisa ditorehkan. Kebaikan yang terorganisir memiliki kekuatan untuk menyebar lebih cepat dan menjangkau lebih luas, sehingga memberi kemaslahatan bagi banyak orang.

Ajak Diri untuk Terus Berkarya dan Beribadah

Akhirnya, penulis mengajak diri pribadi dan para pembaca semua untuk menjadikan kematian sebagai pengingat dan pendorong dalam memperbanyak amal dan terus berkarya. Gunakanlah waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya untuk berbuat baik, beribadah, dan menyebarkan manfaat di mana pun kita berada.

“Di mana pun kita berada, kapan pun, bagaimana pun kondisinya, dengan siapa pun kita berinteraksi, dan apa pun profesi kita—teruslah berkarya, menebar manfaat, serta menegakkan ajaran Allah yang mengajak kepada keselamatan dan kebahagiaan dunia-akhirat.”

Rabbana aatina fiddunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qinaa ‘adzabannaar.
(Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa neraka.). (*)

Tinggalkan Balasan

Search