*)Oleh: Mutiatun, SPd I
Peserta Sekolah Tabligh PWM Jateng IV UMKABA
Seorang Muslim yang sejati seharusnya menjalankan agama dengan penuh dedikasi namun tetap seimbang. Dalam beragama, kita harus maksimal, fokus, dan intens, namun tetap menjaga keseimbangan serta mengetahui batasan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tujuannya adalah agar tidak muncul sikap ekstrem, fanatik, atau berlebihan dalam beragama, sekaligus menghindari sikap liberal, lalai, dan meremehkan risalah-risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Dalam beribadah, kita diharuskan serius dan penuh kesungguhan. Namun, itu tidak berarti kita harus melupakan dunia dan hanya fokus pada ibadah tanpa henti. Islam melarang berlebihan dalam beragama.
Allah sendiri menyuruh umat-Nya untuk tidak berlebih-lebihan, yang tercermin dalam ayat Al-Qur’an, seperti dalam Q.S. Al-Maidah Ayat 77:
“Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dalam agamamu.”
Sikap berlebihan dalam beragama dikenal dengan istilah ghuluw, yang berarti melampaui batas yang ditentukan syariat, baik dalam keyakinan maupun perbuatan. Oleh karena itu, kita perlu menjauhi sikap ghuluw tersebut.
Islam mengajarkan untuk tidak melupakan dunia, karena setiap manusia berhak mencari kebahagiaan di dunia, meskipun akhirat tetap menjadi prioritas utama. Nabi Muhammad SAW memberikan contoh tentang sikap tidak berlebihan dalam beribadah. Beliau juga memiliki kehidupan sosial dan keluarga seperti kita semua. Jadi, jangan sampai kita terjebak dalam ibadah yang berlebihan hingga melupakan kewajiban terhadap diri sendiri dan keluarga.
Suatu ketika, ada sahabat Nabi, Utsman bin Mazh’un, yang meminta izin kepada Rasulullah untuk menceraikan istrinya dan mengabdikan hidup sepenuhnya untuk beribadah. Utsman bahkan ingin mengosongkan dirinya, tidak makan daging, tidak tidur malam, dan berpuasa setiap hari. Namun, Rasulullah justru menegur sikap tersebut.
Beliau menjelaskan bahwa hal itu bertentangan dengan sunnah beliau. Rasulullah bersabda:
“Di antara sunnahku adalah salat, tidur, puasa, makan, menikah, dan cerai. Barangsiapa tidak mengikuti sunnahku, ia bukan bagian dari saya.” (Sunan ad-Darimi 2104)
Hadis tersebut jelas menunjukkan bahwa kita harus menjaga keseimbangan dalam beribadah. Tujuan beribadah bukanlah untuk berlebihan hingga melupakan prinsip-prinsip yang seharusnya ada dalam kehidupan sehari-hari, tetapi untuk memperoleh pahala dengan cara yang seimbang dan konsisten.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan kita untuk tidak melupakan bagian kita di dunia, tetapi tetap menjaga akhirat sebagai tujuan utama kita. Sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Qashash Ayat 77:
“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu, tetapi jangan kamu lupakan bagianmu di dunia.”
Beribadah secara profesional dan proporsional tidak terlepas dari kewajiban menuntut ilmu. Ada berbagai tipe orang dalam mencari ilmu, ada yang membeli buku hanya untuk koleksi, ada yang rajin mengikuti kajian, ada yang hanya menunggu dengan sikap tertutup, dan ada yang suka membeli buku serta mengikuti kajian untuk memperluas wawasannya.
Kedalaman ilmu seseorang berpengaruh besar dalam cara mereka menyikapi perbedaan, baik dalam hal ibadah maupun perbedaan pendapat. Sebagai contoh, perbedaan awal Ramadan atau Syawal dapat disikapi dengan bijaksana, tanpa memicu perpecahan, karena seseorang yang berilmu memahami perbedaan metodologi yang digunakan.
Menjadi profesional tidak hanya soal memiliki keahlian, tetapi juga harus dilandasi dengan prinsip-prinsip Islam yang benar. Dalam hal ini, kita harus memahami bahwa menjadi profesional dalam Islam bukan hanya untuk mencari keuntungan duniawi, tetapi juga untuk mengembangkan diri dan memberikan manfaat bagi sesama, masyarakat, dan seluruh makhluk.
Pekerjaan yang kita lakukan pun harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai prinsip Islam. Dalam Q.S. At-Taubah Ayat 105 Allah berfirman.’
“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
Bekerja secara profesional harus disertai dengan niat ikhlas, bertujuan untuk meraih ridha Allah. Semua pekerjaan kita harus sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan tidak membahayakan orang lain. Salah satu hambatan dalam menjadi profesional beribadah adalah seringkali kita terlalu sibuk dengan hal-hal yang tidak produktif dan menunda-nunda kewajiban kita.
Bulan Rajab telah lewat, dan kini hadir bulan Syaban sebagai persiapan sebelum menyambut Ramadan. Sebagian umat Islam seringkali terlena dengan dunia, dan tidak mempersiapkan diri untuk menyambut bulan Ramadan dengan optimal.
Berbagai pertanyaan seputar puasa yang terhutang dan fidyah muncul ketika Ramadan datang, seperti bagaimana cara mengqadla puasa yang belum dibayar, ketentuan bagi orang tua yang sudah pikun, atau bagi ibu hamil.
Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah merumuskan fatwa-fatwa terkait fikih Ramadan. Harapannya, fatwa-fatwa ini dapat disosialisasikan sebelum Ramadan datang, agar kita bisa melaksanakan ibadah dengan kualitas yang lebih baik. Terlebih lagi, ibadah Ramadan harus dilakukan secara profesional dan proporsional, agar tidak ada penyesalan di bulan Syawal karena tidak memaksimalkan ibadah di bulan suci.
Dalam hal Lailatul Qadr, tidak ada ketetapan tanggal yang pasti dalam Al-Qur’an atau hadits. Namun, Rasulullah menganjurkan untuk mencari malam Lailatul Qadr di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, tanpa menentukan tanggal spesifik.
Meskipun sebagian orang di Indonesia memperingati tanggal 17 Ramadan sebagai malam Lailatul Qadr, itu hanya hasil ijtihad ulama berdasarkan peristiwa perang Badar yang terjadi pada tanggal tersebut. Oleh karena itu, disarankan untuk terus berusaha mencari malam Lailatul Qadr sepanjang bulan Ramadan.
Semoga kita semua selalu diberi kekuatan untuk beribadah dengan cara yang profesional dan proporsional, serta mendapatkan rahmat dan ridha Allah. Aamiin. (*)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
