”Don’t be a seasonal servant who only worships Him in the month of Ramadhan, be a true servant who worships the Owner of Ramadhan forever”
”(Jangan menjadi hamba musiman yang hanya menyembah-Nya di bulan Ramadan, jadilah hamba sejati yang menyembah Pemilik Ramadan selamanya)”
Sering kali kita mendengar seloroh bernada sindiran: “Tumben ke masjid?” atau “Wah, mendadak shaleh!” kepada mereka yang baru memulai ketaatan di bulan suci.
Sungguh, tak sepatutnya kita menatap sinis apalagi menghakimi proses hijrah seseorang. Tugas kita bukan menilai niat, melainkan saling merangkul dalam kebaikan. Allah SWT berfirman,
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Qs. Al-Ma’idah: 2)
Tafsir Al-Muyassar menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah bagi setiap mukmin untuk saling mendukung dalam segala bentuk ketaatan guna mendekatkan diri kepada Allah, serta menjauhi segala hal yang membangkitkan kebencian. Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam hadis sahih, Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya:
”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya.” (HR. Muslim No. 783)
Berdasarkan hadis ini, amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus (istiqamah/kontinu) meskipun jumlahnya sedikit.
Mari sambut saudara kita dengan senyum dan doa. Ingatlah, hidayah adalah hak prerogatif Allah.
Semoga semangat Ramadaniyyun (ibadah saat Ramadan) ini bertransformasi menjadi Rabbaniyyun (ibadah karena Allah setiap waktu) hingga ajal menjemput dalam keadaan husnul khatimah.
Semoga bermanfaat.
