Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) menggelar acara Halalbihalal yang penuh semangat reflektif dan inspiratif. Dalam momentum pasca-Ramadan ini, hadir Dr. Ghoffar Ismail, MA yang memberikan tausiyah bertema transformasi dan pembaruan sebagai bagian dari komitmen UMLA untuk menjadi universitas yang diakui secara global.
“Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, peradaban intelektualnya tumbuh di Padang, dan para kadernya menyeruak dari Lamongan,” ujar Dr Ghoffar menegaskan posisi strategis Lamongan dalam sejarah Muhammadiyah, sekaligus menjadi panggilan bagi UMLA untuk mengemban warisan tersebut dan menghidupkan kembali semangat keilmuan yang progresif.
Dr. Ghoffar menyampaikan tiga frasa kunci sebagai arah gerak bagi segenap sivitas akademika UMLA, yakni Selalu bertransformasi, tinggalkan zona nyaman dan berpihak pada perkaderan.

Tiga prinsip ini, menurutnya, adalah fondasi untuk menjawab tantangan zaman dan mewujudkan visi universitas global. Hal ini sejalan dengan pesan yang disampaikan Rektor UMLA, Prof. Abdul Aziz, dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, KH. Shadiqin, yang mendorong internalisasi nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan akademik dan sosial.
Ramadan sebagai Cermin Gerakan
Dr. Ghoffar menarik hubungan erat antara spiritualitas Ramadan dan semangat transformasi institusi. Ia mengajak seluruh komunitas UMLA untuk meneladani kesabaran, kedisiplinan, dan ketekunan yang diasah selama bulan suci, sebagai bekal dalam membangun universitas yang progresif dan inklusif.
Menurutnya, kompleksitas tantangan dunia pendidikan tinggi saat ini menuntut pendekatan out of the box, keberanian untuk berubah, dan dedikasi terhadap misi pencetakan pemimpin masa depan. Ia menegaskan bahwa kemajuan institusi hanya dapat dicapai melalui tekad kolektif, inovasi berkelanjutan, dan semangat pembaruan.
“Imanan wahtisaban”: Filosofi Kerja Tulus dan Berarti
Dalam penyampaiannya, Dr. Ghoffar mengadaptasi hadis Nabi tentang keutamaan Ramadan: “Man qâma Ramadâna imânan wahtisâban…” yang artinya barang siapa menjalani Ramadan dengan iman dan penuh pengharapan, maka akan mendapatkan ganjaran besar. Ia menerjemahkan semangat ini dalam konteks UMLA dengan menyatakan:
“Man amila fî Jâmi‘ah Muhammadiyah Lamongan imânan wahtisâban”, Siapa pun yang bekerja di Universitas Muhammadiyah Lamongan dengan keimanan dan ketulusan niat, akan memberi kontribusi besar bagi kemajuan institusi ini.
Dengan merujuk pada tafsir para ulama seperti Ibnu Hajar dalam Fathul Bari dan Al-Khattabi, beliau menekankan bahwa “imanan” adalah keyakinan yang kuat akan kebijaksanaan Allah, sementara “ihtisaban” adalah ketulusan niat untuk meraih ridha-Nya. Prinsip ini menjadi etos kerja Islami yang relevan diterapkan dalam menjalankan misi universitas.
Menjawab Tantangan Global dengan Identitas Lokal
Pidato Dr. Ghoffar menutup dengan ajakan untuk merevitalisasi peran Lamongan sebagai pusat kaderisasi Islam yang progresif. Ia menegaskan bahwa untuk menjadi universitas global, UMLA tidak boleh melupakan akarnya—yakni nilai-nilai Islam, semangat intelektual Muhammadiyah, dan tanggung jawab sosial terhadap komunitas lokal.
“Dengan konsisten menjalankan nilai-nilai Ramadan—komitmen untuk berubah, menolak stagnasi, dan mendidik generasi unggul—UMLA akan mampu menapaki jalan menuju pengakuan dunia sekaligus menghidupkan kembali Lamongan sebagai pusat kemajuan intelektual dan moral,” pungkasnya. (*/tim)
