Menjaga Hati dari Prasangka Buruk dan Menyambut Nasihat dengan Positive Vibes

Menjaga Hati dari Prasangka Buruk dan Menyambut Nasihat dengan Positive Vibes
www.majelistabligh.id -

SD Muhammadiyah 1 Malang kembali menggelar kegiatan Subuh Raih Ridho Ilahi (SIROH) pada Senin (9/3/2026). Kegiatan yang dilaksanakan setelah salat Subuh berjamaah ini berlangsung khidmat sekaligus sarat dengan nasihat keislaman.

Pada kesempatan tersebut, Ustaz Angga Adi Prasetya M.Pd bertindak sebagai imam sekaligus pemateri tausyiah. Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema penting tentang menumbuhkan positive vibes terhadap nasihat serta larangan berprasangka buruk yang dapat menjerumuskan seseorang pada sikap zalim terhadap orang lain.

Tausyiah diawali dengan mengingatkan jamaah pada firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 yang melarang kaum beriman untuk banyak berprasangka, mencari-cari kesalahan orang lain, serta melakukan ghibah. Menurutnya, prasangka buruk sering kali menjadi pintu masuk berbagai dosa sosial di tengah masyarakat.

“Sering kali seseorang merasa diperlakukan tidak baik oleh orang lain, padahal sebenarnya ia sedang dinasihati atau diajak kepada kebaikan,” ujar Ustadz Angga.

Ia mencontohkan fenomena yang kerap terjadi di lingkungan masyarakat maupun sekolah. Terkadang ketika seorang guru memberikan nasihat kepada murid, nasihat tersebut justru disalahpahami. Karena prasangka buruk, muncul anggapan bahwa guru tersebut sedang “menandai” atau dalam istilah Jawa disebut ngecing . Padahal, sejatinya nasihat tersebut merupakan bentuk kepedulian.

Menurutnya, prasangka buruk itu dapat berkembang menjadi sikap tajassus , yaitu mencari-cari kesalahan orang lain. Bahkan tidak jarang berlanjut pada adu domba dengan menambah-nambahi perkataan agar sesuai dengan prasangka yang sudah tertanam di dalam hati. Akibatnya, seseorang bisa terlihat seolah-olah menjadi korban, padahal sebenarnya ia sendiri yang memulai kezaliman tersebut.

Dua Cara Menghindari Prasangka Buruk

Untuk menghindari sikap mudah berprasangka buruk, Ustadz Angga menjelaskan dua langkah penting.

Pertama, mengenali diri sendiri. Ia mengutip perkataan ulama besar Sufyan Ats-Tsauri:

“ Man ‘arafa nafsahu laa yadhurruhu maa qiila fiihi.”
Barang siapa mengenal dirinya, maka ia tidak akan terganggu oleh apa pun yang dikatakan orang tentang dirinya.

Menurutnya, orang yang mengenal dirinya akan bersikap bijak ketika menerima penilaian dari orang lain. Jika memang melakukan kesalahan, ia akan melakukan introspeksi dan berusaha memperbaiki diri. Namun jika merasa tidak bersalah, ia tidak akan terlalu terpengaruh meskipun terkadang dicela atau difitnah.

Kedua, tidak menzalimi orang lain dengan mencari-cari kesalahannya. Ia kembali mengutip nasihat ulama:

“ Man ‘arafa nafsahu isytaghala bi ishlahihaa ‘an ‘uyuubi ghairihi.”
Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan sibuk memperbaiki dirinya sendiri daripada mencari-cari aib orang lain.

Ustaz Angga mengingatkan, kebiasaan membully atau mencari kesalahan orang lain sering muncul karena seseorang lupa bahwa dirinya sendiri pun tidak luput dari kesalahan.

Berkata Baik atau Diam

Di akhir kajian, ia menutup dengan hadis Rasulullah SAW:

“ Man kaana yu’minu billahi wal yaumil aakhir fal yaqul khairan au liyasmut.”
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.

Ia juga mengutip nasihat ulama tentang bahaya orang yang tidak mau menerima nasihat:

Asyaddu an-naasi jahlan man jaahila jahlahu, wa akbaru ghururin an yara al-insaanu nafsahu ‘ala khairin wa huwa ‘ala syarrin.
Manusia yang paling bodoh adalah orang yang tidak menyadari kebodohannya, dan tipuan terbesar adalah ketika seseorang merasa dirinya berada di atas kebaikan, padahal sebenarnya ia berada dalam keburukan.

Nasihat tersebut menjadi pengingat bahwa sikap merasa paling benar dan menolak nasihat justru dapat menutup pintu perbaikan diri.

Sebagai penutup, Ustaz Angga menegaskan, keselamatan seseorang sering kali terletak pada lisannya. Karena itu, setiap muslim hendaknya berhati-hati dalam berbicara, menjaga hati dari prasangka buruk, serta lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari kesalahan orang lain. Dengan demikian, kehidupan akan menjadi tenang, ukhuwah tetap terjaga dan kehidupan bermasyarakat dipenuhi dengan kebaikan serta saling menasihati dalam kebenaran. (angga a p)

 

Tinggalkan Balasan

Search