Menjaga Lisan: Kunci Agar Puasa Tidak Sia-Sia

Menjaga Lisan: Kunci Agar Puasa Tidak Sia-Sia
*) Oleh : Nurkhan
Kepala MI Muhammadiyah 2 Campurejo Panceng Gresik
www.majelistabligh.id -

Puasa sering kali dipahami hanya sebagai menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Padahal, hakikat puasa jauh lebih dalam dari sekadar menahan makan dan minum. Puasa adalah latihan pengendalian diri, terutama dalam menjaga lisan. Tanpa penjagaan lisan, puasa bisa kehilangan nilai dan pahalanya.

Lisan adalah bagian tubuh yang kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Dari lisan lahir kata-kata yang bisa menenangkan hati, namun juga bisa melukai perasaan orang lain. Karena itu, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa salah satu bentuk kesempurnaan puasa adalah menahan diri dari perkataan buruk.

Ada sebuah hadis yang sering dikutip oleh para ulama tentang lima hal yang dapat merusak atau menghilangkan pahala puasa. Hadis ini diriwayatkan dari beberapa riwayat, di antaranya disebutkan oleh ulama dalam kitab-kitab seperti Ihya’ Ulumuddin. Lafaz hadisnya sebagai berikut:

خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ: الْغِيبَةُ، وَالنَّمِيمَةُ، وَالْكَذِبُ، وَالنَّظَرُ بِالشَّهْوَةِ، وَالْيَمِينُ الْكَاذِبَةُ

Artinya:
Ada lima perkara yang dapat merusak pahala puasa, yaitu: ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, memandang dengan syahwat, dan sumpah palsu.

Kelima hal tersebut tidak membatalkan puasa secara fiqih (puasa tetap sah), tetapi dapat menghilangkan atau merusak pahala puasa, sehingga seseorang bisa saja hanya mendapatkan lapar dan haus saja dari puasanya.

Hal ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya menahan perut, tetapi juga menjaga perilaku dan akhlak.

Ini juga sejalan dengan hadis Nabi

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.” (HR. An-Nasa’i)

Di antara kelima hal tersebut, ghibah dan dusta yang keluar dari lisan menjadi yang paling sering terjadi. Banyak orang mampu menahan lapar seharian, tetapi sulit menahan diri untuk tidak membicarakan keburukan orang lain. Padahal, ketika seseorang tenggelam dalam ghibah, ia sebenarnya sedang menggerogoti pahala puasanya sendiri.

Fenomena ini sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Saat menunggu waktu berbuka, sebagian orang justru menghabiskan waktunya dengan membicarakan orang lain, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, atau bahkan memperuncing konflik. Tanpa disadari, aktivitas semacam ini menjadikan puasa hanya sebatas ritual fisik, bukan ibadah yang membersihkan jiwa.

Padahal Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga. Hal ini terjadi karena mereka tidak menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa, terutama lisan.

Puasa sejatinya adalah madrasah akhlak. Ia melatih manusia untuk menahan diri, mengendalikan emosi, serta membiasakan diri berkata baik atau diam. Jika seseorang berhasil menjaga lisannya selama berpuasa, maka ia sedang membangun karakter sabar dan bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, puasa seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki cara kita berbicara. Lisan yang biasanya mudah mengeluh, mencela, atau memfitnah, dilatih untuk lebih banyak berdzikir, berdoa, dan berkata baik.

Jika puasa dijalani dengan menjaga lisan, menahan pandangan, serta menghindari perilaku buruk lainnya, maka puasa tidak hanya menjadi ibadah yang sah secara hukum, tetapi juga bernilai tinggi di sisi Allah. Dengan demikian, puasa benar-benar menjadi jalan untuk membentuk manusia yang lebih bertakwa.

Pada akhirnya, menjaga lisan bukan hanya menjaga hubungan dengan sesama manusia, tetapi juga menjaga pahala ibadah yang sedang kita lakukan. Sebab, puasa yang paling bernilai bukanlah sekadar menahan lapar, melainkan puasa yang mampu menjaga hati, lisan, dan perilaku dari segala yang merusak pahala. ###

 

Tinggalkan Balasan

Search