Menjaga Nurani Umat: Tiga Cahaya yang Menentukan Hidup dan Matinya Peradaban

Menjaga Nurani Umat: Tiga Cahaya yang Menentukan Hidup dan Matinya Peradaban
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan pengasuh kajian tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek SIdoarjo
www.majelistabligh.id -

Di tengah derasnya arus zaman, umat ini tidak pertama-tama kehilangan teknologi, bukan pula kehilangan kecerdasan. Yang paling berbahaya adalah ketika ia kehilangan cahaya dalam dirinya.

Para dai, khatib, dan penyeru kebenaran perlu menyadari bahwa ada tiga cahaya yang menjadi fondasi bangunan ruhani umat. Bila satu saja padam, bangunan itu retak. Bila ketiganya padam, runtuhlah peradaban.

إِذَا مَاتَ الْقَلْبُ ذَهَبَتِ الرَّحْمَةُ
إِذَا مَاتَ الْعَقْلُ ذَهَبَتِ الْحِكْمَةُ
إِذَا مَاتَ الضَّمِيرُ ذَهَبَ كُلُّ شَيْءٍ

Jika hati mati, hilanglah rahmat. Jika akal mati, hilanglah hikmah. Jika nurani mati, hilanglah segalanya.

1. Cahaya Hati: Sumber Rahmat Dakwah

Allah ﷻ berfirman:

QS. Ali ‘Imran: 159

فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ
Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka.”

Dakwah tidak berdiri di atas kemarahan. Ia berdiri di atas rahmat.
Hati yang hidup melahirkan kelembutan.
Hati yang mati melahirkan kekerasan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang.” (HR. Sunan al-Tirmidzi)

Kita harus menjadi penebar rahmat. Jika rahmat hilang, dakwah berubah menjadi debat kosong.

2. Cahaya Akal: Lahirnya Hikmah

Allah ﷻ berfirman:

QS. Al-Baqarah: 269

يُؤْتِى ٱلْحِكْمَةَ مَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ ٱلْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِىَ خَيْرًۭا كَثِيرًۭا

Hikmah bukan sekadar ilmu. Hikmah adalah ilmu yang tepat sasaran.
Ia tahu kapan harus tegas, kapan harus lembut. Ia tahu mana prinsip, mana strategi.

Tanpa akal yang hidup, dakwah kehilangan arah. Seruan menjadi keras tapi tidak membekas.

Allah bahkan memperingatkan:

QS. Al-A‘raf: 179

لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا…
Mereka memiliki hati tetapi tidak digunakan untuk memahami…”

Akal yang tidak digunakan untuk memahami wahyu adalah akal yang menuju kematian.

3. Cahaya Nurani: Penjaga Integritas

Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad…” (HR. Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim)

Nurani adalah pusat kendali. Ia menjaga keikhlasan. Ia mengoreksi niat sebelum amal.

Majelis bisa ramai. Ceramah bisa viral. Tapi jika nurani mati, semua hanya panggung.

Allah ﷻ berfirman:

QS. Asy-Syams: 8

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.

Di sinilah peran tazkiyatun nafs.
Menjaga cahaya takwa agar tidak padam.

Penutup

Krisis umat bukan pertama-tama krisis jumlah, tetapi krisis cahaya. Hati yang hidup melahirkan rahmat. Akal yang hidup melahirkan hikmah. Nurani yang hidup melahirkan integritas.

Jika tiga cahaya ini menyala, umat tidak hanya bangkit—ia bercahaya. Maka tugas kita bukan sekadar menyampaikan, tetapi menyalakan.

Karena dakwah sejati bukan hanya terdengar di telinga, tetapi menyala di dalam dada. (*)

Tinggalkan Balasan

Search