Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin… Segala puji bagi Allah yang masih mempertemukan kita dengan hari kedelapan di bulan Ramadan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik dalam kesabaran dan keistiqamahan.
Tujuh hari telah kita lalui. Waktu terasa cepat. Rasanya baru kemarin kita berdiri di malam pertama Ramadan dengan semangat yang membuncah. Masjid terasa penuh, doa-doa terasa panjang, dan hati begitu mudah tersentuh.
Namun hari ini, di hari kedelapan, suasana mungkin mulai berbeda. Tubuh mulai merasakan lelah. Rutinitas pekerjaan tetap berjalan. Bangun sahur tidak lagi seringan hari pertama. Tilawah yang dulu lancar, kini terasa berat.
Di sinilah sebenarnya ujian Ramadan dimulai.
Ramadan bukan hanya tentang semangat yang menyala di awal. Ramadan adalah perjalanan panjang yang menguji konsistensi. Allah tidak hanya melihat bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita bertahan.
Allah berfirman:
“Maka tetaplah engkau istiqamah sebagaimana diperintahkan…” (QS. Hud: 112)
Istiqamah itu bukan tentang melakukan hal besar sesekali. Istiqamah adalah tentang menjaga kebaikan walau kecil, namun terus hidup setiap hari.
Rasulullah SAW bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hari kedelapan ini mari kita jadikan sebagai hari muhasabah. Mari kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri.
Apakah lisan kita masih terjaga?
Apakah mata kita masih terpelihara?
Apakah hati kita semakin lembut atau justru kembali keras?
Jangan sampai perut kita berpuasa, tetapi hati kita masih penuh amarah. Jangan sampai kita menahan lapar, tetapi tidak menahan ego.
Ramadhan itu seperti cahaya. Di awal ia sangat terang. Tetapi jika tidak kita jaga, cahaya itu bisa meredup oleh kelalaian.
Jika hari ini kita merasa semangat menurun, jangan panik. Itu manusiawi. Iman memang naik dan turun. Tetapi jangan biarkan turun itu menjadi alasan untuk berhenti.
Kalau tidak mampu membaca satu juz, bacalah beberapa halaman.
Kalau belum kuat tahajud panjang, bangunlah walau dua rakaat.
Kalau belum bisa bersedekah besar, berikan senyum dan doa.
Karena yang Allah nilai bukan besar kecilnya amal, tetapi ketulusan dan konsistensinya.
Bayangkan sejenak…
Bagaimana jika Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir kita?
Apakah kita rela menyia-nyiakan hari kelima ini?
Saudaraku yang dirahmati Allah…
Mari kita hidupkan kembali niat yang dulu kita tanam di awal Ramadhan.
Niat untuk berubah.
Niat untuk lebih sabar.
Niat untuk lebih dekat dengan Allah SWT
Mari kita berdoa kepada Allah SWT,
“Ya Allah, jangan Engkau jadikan semangat kami hanya indah di awal. Kuatkan kami untuk istiqamah sampai akhir. Lembutkan hati kami, jaga lisan kami, dan jadikan Ramadhan ini benar-benar mengubah diri kami.” Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Semoga hari keenam ini menjadi titik penguat, bukan titik lemah. Semoga langkah kita semakin teguh, hingga kita keluar dari Ramadhan dalam keadaan lebih baik daripada saat kita memasukinya. (*)
