Menjauh dari Luka Demi Menjaga Iman dan Menjaga Hati

Menjauh dari Luka Demi Menjaga Iman dan Menjaga Hati
*) Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd
Guru SD Muhammadiyah 1 Malang dan sekbid dakwah PDPM Malang
www.majelistabligh.id -

Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, kesabaran sering dipahami sebagai kemampuan untuk bertahan dalam segala keadaan. Namun, Islam tidak mengajarkan kesabaran yang membiarkan hati terluka tanpa batas, terlebih jika luka tersebut menggerogoti iman dan ketenangan jiwa.

Menjaga hati adalah bagian dari menjaga agama. Karena dari hati lahir niat, amal, dan keikhlasan. Maka, keberanian untuk menjauh dari hal yang melukai hati bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kebijaksanaan dan kesadaran iman.

Hati sebagai Pusat Kehidupan Iman

Islam menempatkan hati sebagai pusat seluruh amal perbuatan. Baik dan buruknya seseorang sangat ditentukan oleh keadaan hatinya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ketahuilah, di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa merawat hati merupakan kewajiban spiritual, bukan sekadar urusan perasaan.

Islam Tidak Membenarkan Membiarkan Luka yang Merusak

Islam tidak memerintahkan seorang hamba untuk bertahan dalam kondisi yang membahayakan dirinya, baik secara fisik maupun rohani.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)

Ayat ini mencakup larangan mempertahankan keadaan yang menghancurkan jiwa, iman, dan ketenangan batin. Bertahan dalam hubungan, lingkungan, atau kebiasaan yang terus melukai hati dan menjauhkan dari Allah termasuk bentuk tahlukah (kebinasaan) yang harus dihindari.

Menjauh sebagai Bentuk Hikmah dan Keteguhan Iman

Keberanian untuk menjauh bukan berarti lari dari ujian, melainkan bentuk kesadaran bahwa iman harus dijaga.

Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menasihatkan:

اعْتَزِلْ مَا يُؤْذِيكَ

Jauhilah apa yang menyakitimu.”
(Ibn Abi Dunya, Kitāb al-‘Uzlah)

Ucapan ini lahir dari pemahaman mendalam tentang jiwa manusia. Luka yang dibiarkan akan mengeras, lalu menggelapkan hati. Karena itu, menjauh bukanlah bentuk kelemahan, melainkan tindakan preventif untuk menyelamatkan iman.

Pandangan Ulama Salaf tentang Menjaga Hati

Para ulama salaf sangat menekankan pentingnya menjaga hati dibanding sekadar menjaga kondisi lahiriah.

Imam Ibn al-Qayyim rahimahullah berkata:

إِضَاعَةُ الْقَلْبِ أَشَدُّ مِنْ إِضَاعَةِ الْوَقْتِ

Menyia-nyiakan hati lebih berbahaya daripada menyia-nyiakan waktu.”
(Ibn al-Qayyim, Al-Fawā’id)

Waktu yang hilang masih bisa ditebus dengan amal, tetapi hati yang rusak akan sulit kembali hidup.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah juga berkata:

مَا زَالَ الْمُؤْمِنُ يُحَاسِبُ نَفْسَهُ حَتَّى يَكُونَ أَشَدَّ النَّاسِ حِفْظًا لِقَلْبِهِ

“Seorang mukmin akan terus mengoreksi dirinya hingga ia menjadi orang yang paling waspada dalam menjaga hatinya.”
(Abu Nu‘aim, Hilyatul Auliyā’)

Iman Tidak Selalu Diuji dengan Bertahan

Sering kali kita mengira bahwa iman hanya diuji dengan kesabaran untuk bertahan. Padahal, ada ujian lain yang lebih berat: keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang dicintai demi keselamatan iman.

Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ

Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”
(HR. at-Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan prinsip kehati-hatian dalam menjaga hati dan iman. Jika sesuatu terus melahirkan kegelisahan dan luka, maka menjauhinya adalah pilihan yang lebih selamat.

Menjaga hati bukanlah sikap egois, melainkan bentuk ibadah. Maafkan dan tinggalkan untuk memulihkan luka.
Imam Ibn al-Qayyim رحمه الله

لَا شَيْءَ أَنْفَعُ لِلْعَبْدِ مِنَ الْعَفْوِ مَعَ الْقُدْرَةِ، فَإِنَّهُ يُرِيحُ الْقَلْبَ وَيُطَهِّرُهُ مِنَ الْغِلِّ

Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba selain memaafkan ketika mampu, karena hal itu menenangkan hati dan membersihkannya dari kedengkian.”
Madārij as-Sālikīn (2/330)

Tidak semua yang ditinggalkan adalah kerugian; sebagian justru merupakan penyelamatan yang Allah anugerahkan.

Ketika seorang mukmin berani menjauh dari luka, ia sedang memilih ketenangan yang Allah ridai. Sebab iman tidak hanya diuji dengan kesabaran untuk bertahan, tetapi juga dengan keberanian untuk pergi demi menjaga hati dan kedekatan dengan-Nya.

Semoga Allah ﷻ menuntun langkah kita untuk berani menjauh dari luka yang melemahkan iman, dan menguatkan hati untuk tetap memilih jalan yang diridai-Nya.
Semoga Dia membersihkan hati dari dendam yang melelahkan, menggantinya dengan lapang, tenang, dan cahaya keyakinan. Sebab hati yang terjaga adalah tempat iman bersemi, dan iman yang terpelihara adalah bekal pulang menuju-Nya. (*)

Tinggalkan Balasan

Search