Menjemput Bulan Suci Ramadan: Menyambut Keberkahan, Menggapai Keutamaan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Usamah Nabhan Asshidiqy
PCIM Mesir

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan dan ampunan. Di bulan inilah, umat Islam diberi kesempatan luar biasa untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, dan meraih pahala berlipat ganda. Sebagaimana yang telah Allah firmankan, bulan ini adalah saat yang sangat spesial: bulan yang penuh rahmat, maghfirah (ampunan), dan dijauhkan dari neraka. Oleh karena itu, menyambut bulan Ramadan bukan sekadar ritual, tetapi juga kesempatan emas untuk menjemput kemuliaan.

Keistimewaan Umat Islam

Allah telah memilih umat Islam untuk menjadi umat terbaik. Umat yang memiliki akal yang cerdas, ilmu yang luas, dan dekat dengan kebenaran. Ini adalah anugerah terbesar, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah, “Umat Muhammad ﷺ adalah umat yang paling cerdas akal dan fitrahnya, paling luas ilmunya, dan paling dekat dengan kebenaran dalam segala hal.”

Dalam hal ini, umat Islam memiliki posisi yang sangat mulia di sisi Allah, meskipun mereka datang terakhir setelah umat-umat sebelumnya. Allah Ta’ala berfirman:

{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ}

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Ali Imran: 110)

Keistimewaan ini bukan karena ras, warna kulit, atau bangsa, melainkan karena mereka memeluk agama yang dipilih oleh Allah, yaitu Islam. Barang siapa yang berpegang teguh pada agama ini, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ, ia akan mendapatkan kemuliaan yang tak terhingga. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

«أَلاَ إِنَّكُمْ تُوَفُّونَ سَبْعِينَ أُمَّةً، أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Ketahuilah bahwa kalian (umat Islam) melengkapi tujuh puluh umat. Kalian adalah yang terbaik dan paling mulia di sisi Allah.” (HR. Ahmad)

Ramadan: Bulan yang Penuh Keberkahan

Bulan Ramadan adalah bulan yang luar biasa bagi umat Islam. Di bulan inilah, Allah membuka pintu surga seluas-luasnya, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Ini adalah kesempatan besar yang tidak boleh disia-siakan. Rasulullah ﷺ bersabda:

«إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ»

“Jika datang bulan Ramadan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bulan ini adalah bulan yang penuh dengan kesempatan untuk mendapatkan pahala berlipat ganda. Setiap amal yang kita lakukan di bulan Ramadan dihitung lebih besar pahalanya. Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadan juga disebut sebagai “Bulan Al-Qur’an,” karena pada bulan ini, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Sebagaimana firman Allah:

{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْـزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ}

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Menyambut Ramadan dengan Hati yang Bersih

Marilah kita menyambut bulan Ramadan dengan hati yang bersih dan niat yang tulus untuk beribadah kepada Allah. Kita harus memanfaatkan waktu ini untuk memperbaiki diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan meningkatkan amal ibadah. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh sebagian salaf:

“أهون الصيام ترك الشراب والطعام”. وقال جابر: “إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمحارم

“Puasa yang paling ringan adalah meninggalkan minuman dan makanan.” Namun, kita diajarkan bahwa puasa yang sesungguhnya adalah puasa yang menjaga seluruh anggota tubuh kita dari perbuatan dosa. Seperti yang dikatakan oleh Sayyidina Jabir:

“Jika kamu berpuasa, maka puasa-kanlah telingamu, matamu, dan lidahmu dari kebohongan dan segala yang haram.”

Tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari dosa dan maksiat. Jika kita hanya menahan lapar dan haus tetapi tetap melakukan perbuatan buruk, maka kita belum mencapai makna puasa yang sebenarnya.

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa:

قال ابن رجب: “وسر هذا، أن التقرب إلى الله تعالى بترك المباحات لا يكمل إلا بعد التقرب إليه بترك المحرمات.. ولهذا المعنى والله أعلم ورد في القرآن بعد ذكر تحريم الطعام والشراب على الصائم بالنهار، ذكر تحريم أكل أموال الناس بالباطل”.

Ibnu Rajab berkata: “Dan rahasia dari ini adalah bahwa mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan yang diperbolehkan (mubah) tidak akan sempurna kecuali setelah mendekatkan diri kepada-Nya dengan meninggalkan yang haram. Oleh karena itu, dalam Al-Qur’an setelah menyebutkan larangan makan dan minum bagi orang yang berpuasa di siang hari, disebutkan pula larangan makan harta orang lain secara batil.”

Maksudnya, puasa bukan hanya menahan diri dari hal-hal yang mubah (yang diperbolehkan), tetapi juga harus menjaga diri dari segala bentuk dosa dan perbuatan yang haram.

Lailatul Qadar: Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Salah satu keistimewaan bulan Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah memberikan malam ini kepada umat Muhammad ﷺ sebagai anugerah untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan lebih intens. Maka dari itu, mari kita manfaatkan ketika kita berada di malam-malam terakhir Ramadan, untuk beribadah, berdoa, dan memohon ampunan kepada Allah. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari Aisyah ia berkata, “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah jika aku mengetahui bahwa malam itu adalah lailatul qadar, apa yang harus aku ucapkan waktu itu?’ Rasulullah bersabda, ‘Ucapkanlah: Allaahumma innaka ‘afuwwun kariim tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annii (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau Mencintai Pemaafan, maka maafkanlah aku).’ (HR. Tirmidzi; shahih)

Marilah kita menyambut bulan Ramadan dengan semangat yang tinggi, memperbanyak amal ibadah, memperbaiki hubungan kita dengan Allah, dan meningkatkan ketakwaan. Bulan ini adalah kesempatan besar untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, serta meraih tempat yang mulia di sisi Allah.

Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita bagian dari umat terbaik yang dijanjikan. Aamiin.

“Sesungguhnya, dengan kesabaran kita dalam menahan diri dari makanan, minuman, dan hawa nafsu lainnya di siang hari yang panjang di bulan Ramadan, kita juga lebih mampu untuk menahan diri dari maksiat dan lebih sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah sepanjang hidup kita.”

Marilah kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat, dengan senantiasa berdoa dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Pengampun.

يارب عبـــدك قــد أتـــاك *** وقد أساء وقد هفا يكفـــــيـه منــك حيــــاؤه *** من سوء ما قد أسلفا حمـــــل الذنــــوب على *** الذنوب الموبقات وأسرفا وقد استجار بذيل عفوك *** من عقابك ملحفا يارب فـــاعف وعـــافــــه *** فلأنت أولى من عفا

“Ya Rabb, hamba-Mu datang kepada-Mu,

Dengan membawa dosa dan kesalahan.

Cukuplah baginya rasa malunya,

Atas segala keburukan yang telah ia perbuat.

Dia membawa dosa di atas dosa lainnya,

Dosa-dosa besar yang membinasakan, dan ia telah melampaui batas.

Namun kini, ia berlindung di bawah naungan ampunan-Mu,

Dengan penuh harap akan keselamatan dari hukuman-Mu.

Ya Rabb, maka maafkan dan sehatkanlah dia,

Karena Engkau adalah yang paling pantas untuk memberi ampunan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search