”Don’t let today be a copy of yesterday’s mistakes; be better before the breath stops in your throat.”
”(Jangan biarkan hari ini menjadi salinan dari kesalahan kemarin; jadilah lebih baik sebelum nafas terhenti di tenggorokan)”
Tahun hampir berganti, namun langkah kita seringkali masih tertahan di titik yang sama. Dosa lama terus berulang, sementara janji untuk berhijrah hanya menjadi wacana yang tertumpuk debu penundaan. Kita sering beristighfar di lisan, namun hati sibuk mencari alasan untuk memaklumi kemaksiatan.
Ingatlah, waktu tidak pernah menunggu kesiapan kita. Jangan biarkan sisa usia habis hanya untuk merencanakan kebaikan tanpa pernah memulainya. Mari jadikan pergantian tahun ini sebagai titik balik yang nyata, bukan sekadar seremonial belaka. Allah SWT berfirman,
يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلتَنظُر نَفسٌ ما قَدَّمَت لِغَدٍ
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”(Qs. Al-Hasyr: 18)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah untuk melakukan Muhasabah (evaluasi diri). Kita diajak untuk memeriksa bekal apa yang sudah disiapkan sebelum menghadap Allah, bukan terus-menerus menunda amal.
Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda,
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ثُمَّ تَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
Artinya:
“Orang yang berakal (bijak) adalah orang yang bisa menahan nafsunya dan beramal untuk setelah kematian, dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan selalu berangan-angan (kosong) atas Allah.” (HR. Sunan Ibnu Majah No.4250)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa orang yang cerdik (al-kayyis) adalah mereka yang mampu berintrospeksi (muhasabah diri), mengendalikan hawa nafsu, dan bersungguh-sungguh beramal baik sebagai bekal untuk kehidupan setelah mati, bukan hanya berangan-angan kosong.
Jadi pergantian tahun adalah pengingat bahwa jatah usia kita di dunia berkurang. Hijrah yang sesungguhnya bukan tentang berpindah kalender, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju ketaatan yang konsisten sebelum pintu taubat tertutup.
Semoga bermanfaat.
