Menjemput Ridha Ilahi di Sisi Ibu: Sebuah Renungan Bagi Sang Perantau

Menjemput Ridha Ilahi di Sisi Ibu: Sebuah Renungan Bagi Sang Perantau
*) Oleh : Ahmad Afwan Yazid, M.Pd
Wakil Kepala SD Muhammadiyah 4 Kota Malang, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga
www.majelistabligh.id -

Di tengah deru mesin kota dan hiruk-pikuk mengejar mimpi di tanah rantau, sering kali ada satu sudut di hati kita yang terasa hampa. Sudut itu adalah kerinduan akan rumah, lebih tepatnya, kerinduan akan sosok yang doa-doanya menjadi bahan bakar keberhasilan kita hari ini: Ibu.

Bagi seorang anak rantau, pulang bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk kembali bersimpuh di bawah kaki langit yang paling teduh.”Nak, jangan balik tanggal ini, ya? Temani Ibu dulu untuk periksa ke dokter…” Kalimat itu meluncur pelan ditengah obrolan, memecah rencana kepulangan ke tanah rantau yang sudah disusun rapi.

Bagi seorang perantau, kalimat sederhana ini sering kali menjadi ujian sekaligus panggilan cinta. Ada gejolak antara tanggung jawab pekerjaan di tanah rantau dan bakti kepada sosok yang melahirkan. Namun, di titik inilah iman dan kasih sayang diuji: Akankah kita memilih mengejar dunia yang tak ada habisnya, atau memilih memperpanjang masa libur demi memastikan tangan renta itu tetap sehat?

Kemewahan Bernama “Waktu Bersama”
Bagi mereka yang terpisah jarak ratusan atau ribuan kilometer, momen menemani ibu adalah kemewahan yang tak bisa dibeli dengan materi. Sering kali, dalam kesibukan mengejar karier dan pendidikan, kita lupa bahwa waktu bersifat adil sekaligus kejam. Saat kita sedang giat-giatnya menapak tangga kesuksesan, ibu kita pun sedang melangkah perlahan menuju masa senjanya.

Menemani ibu, mendengarkan cerita masa kecil yang ia ulang berkali-kali, atau sekadar membantunya berjalan menuju tempat wudhu, adalah momen-momen emas. Keinginan setiap anak tentu sama: melihat ibu tetap sehat, kuat, dan tersenyum. Namun, tahukah kita bahwa bagi seorang ibu, kehadiran anaknya adalah obat paling mujarab bagi kesehatan fisiknya?

Birrul Walidain: Jalan Pintas Menuju Surga

Islam memandang bakti kepada orang tua bukan sekadar etika sosial, melainkan ibadah agung yang disejajarkan dengan tauhid. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 23:
وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”

Ayat ini menegaskan bahwa semakin tua usia orang tua, semakin besar pula ladang pahala bagi sang anak. Bagi perantau, mengalokasikan waktu untuk pulang dan menemani ibu adalah bentuk implementasi nyata dari ayat ini.
Rasulullah SAW pun memberikan penekanan khusus pada sosok ibu. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik, Rasulullah menjawab “Ibumu” sebanyak tiga kali sebelum menyebutkan “Ayahmu”. Ini adalah isyarat bahwa perhatian kepada ibu haruslah menjadi prioritas utama di atas segala urusan duniawi kita.

Melawan “Sibuk” Demi Ridha-Nya

Sering kali setan membisikkan alasan “sibuk” untuk menunda kita berbakti. Kita merasa pekerjaan tidak bisa ditinggalkan atau tenggat waktu yang menghimpit. Namun, renungkanlah: pekerjaan bisa digantikan, namun ibu adalah satu-satunya di dunia.

Manfaatkanlah waktu luang sesempit apa pun. Jika raga belum bisa hadir secara fisik, hadirkanlah suara dan perhatian melalui teknologi. Namun jika ada kesempatan untuk pulang, janganlah menunda. Ketahuilah bahwa setiap detik yang kita habiskan di samping ibu adalah bentuk syukur atas nafas yang masih Allah titipkan kepada beliau.

Saudaraku para perantau, jangan biarkan kesuksesanmu di tanah orang menjadi tabir yang menghalangi baktimu di rumah. Ingatlah sabda Nabi SAW, “Ridha Allah ada pada ridha orang tua, dan murka Allah ada pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi).

Selagi beliau masih ada, selagi tangan lembut itu masih bisa kita cium, dan selagi doa-doanya masih mengangkasa untuk kita, jemputlah ridha itu. Karena pada akhirnya, bukan harta yang membuat kita kaya, melainkan doa ibu yang tulus dan kesempatan untuk menemaninya di masa tua.

Sebagai penutup, izinkan penulis menyampaikan rasa syukur yang tak terhingga. Terima kasih, Ayah dan Ibu. Terima kasih atas segala tetes keringat, air mata, dan doa-doa yang tak pernah putus hingga anakmu ini bisa melangkah sejauh ini.

Tetaplah sehat, tetaplah kuat, dan tolong jangan pernah berhenti mendoakan anakmu ini di setiap sujudmu. Karena tanpa doa kalian, langkah kaki ini takkan punya arah. Tulisan sederhana ini adalah wujud cinta dan bakti kecil yang bisa penulis persembahkan. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kalian dalam lindungan-Nya, sebagaimana kalian menjagaku di waktu kecil. Salam cinta dari anakmu! (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search