Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada organisasi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terutama dalam perannya di bidang Kesehatan. Menurutnya, kedua organisasi ini sejak awal berdirinya telah menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai poros utama dakwah dan pengabdian umat.
“Apa yang saya pikirkan sekarang sudah dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, sejak tahun 1912. Beliau sudah paham bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang sehat dan cerdas. Jadi kalau nanti kita gagal mencapai Indonesia Emas, itu artinya kita tidak meneruskan cita-cita beliau,” ungkap Budi Gunadi Sadikin saat memberikan Ceramah Kesehatan dalam acara Konsolidasi Nasional Majelis Kesehatan ‘Aisyiyah Batch 7 yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) pada Ahad (9/11/2025).

Menurut Menkes, gagasan Kiai Ahmad Dahlan tentang pentingnya kesehatan dan kecerdasan bagi kemajuan bangsa menjadi landasan moral dan historis yang harus diteruskan oleh generasi masa kini. Ia menegaskan, cita-cita menuju Indonesia Emas 2045 hanya bisa dicapai apabila masyarakatnya sehat, produktif, dan berpendidikan tinggi.
Dalam kesempatan kesempatan tersebut, Budi menyoroti perlunya pergeseran paradigma dalam sistem kesehatan nasional — dari orientasi kuratif (mengobati orang sakit) menuju promotif dan preventif (menjaga agar masyarakat tetap sehat). Hal ini yang menjadi salah satu tugas Kementerian Kesehatan.
Ia mengakui, selama ini sebagian besar anggaran kesehatan nasional masih terserap untuk pelayanan di rumah sakit, sementara upaya pencegahan dan edukasi kesehatan belum mendapat porsi yang memadai. Padahal dibandingkan dengan yang sehat, porsi yang sakit hanya 15 persen.
“Tugas Kementerian Kesehatan bukan hanya mengurus rumah sakit, tapi menjaga masyarakat agar tidak sakit. Promotif dan preventif harus diperkuat. Kalau masyarakatnya sehat, biaya kesehatan bisa ditekan dan produktivitas meningkat,” jelas Budi.
Dalam konteks itu, Menkes mengajak ‘Aisyiyah untuk terus memperluas jaringan klinik-klinik berbasis komunitas, terutama yang berfokus pada edukasi hidup sehat, deteksi dini penyakit, dan pencegahan penyakit tidak menular. Ia menilai, ‘Aisyiyah memiliki infrastruktur sosial dan basis massa yang kuat untuk menjadi motor gerakan kesehatan masyarakat.
“Klinik ‘Aisyiyah punya peran besar untuk mendidik masyarakat hidup sehat. Ini sudah benar, saya dengar Muhammadiyah itu punya 180 rumah sakit, dan 400 klinik. Klinik nanti bisa untuk cek kesehatan rutin, edukasi gizi, pengendalian tekanan darah, dan kampanye anti-gula atau kolesterol harus terus digalakkan,” ujarnya.
Selain memperkuat peran lembaga, Menkes juga menyerukan agar setiap individu, khususnya warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, menjadi teladan dalam perilaku hidup sehat. Ia bahkan mengusulkan agar organisasi Islam berkemajuan ini menjadi contoh nasional dalam pelaksanaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).
“Kalau masyarakatnya sehat dan cerdas, maka Indonesia akan kuat dan maju. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah telah menunjukkan jalan itu sejak lama,” pungkasnya.
Dengan demikian, ceramah Menkes di Umsida tidak hanya menjadi momentum apresiasi terhadap kiprah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, tetapi juga seruan moral dan strategis bagi seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama membangun budaya hidup sehat, demi mewujudkan Indonesia yang kuat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.(*/suyono)
