Hidup ini terus berjalan, waktu terus bergulir, dan ajal semakin mendekat. Setiap hari adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan menanam amal kebaikan.
Maka, jangan menunda untuk berbuat baik. Sebab kita tidak pernah tahu, apakah esok hari kita masih diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk bernapas dan melangkah di dunia ini.
Tentu, hanya kepada Allah kita memohon taufiq dan hidayah-Nya, namun usaha dan kesungguhan dari diri kita juga sangat penting. Dalam QS. Al-Ankabut ayat 69, Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Ayat ini mengajarkan bahwa perjuangan dan upaya dalam menjemput hidayah dan kebaikan sangat penting, bukan sekadar menunggu turunnya hidayah secara pasif.
Salah satu bentuk usaha itu adalah memaksa jiwa (nafsu) untuk taat dan tunduk kepada perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.
Ketika kita mendapatkan kesempatan berbuat baik, segerakanlah! Karena kita tidak tahu apakah kesempatan yang sama akan datang kembali. Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Bersegeralah kalian melakukan amal shalih sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seseorang di pagi hari masih beriman, namun di sore harinya menjadi kafir. Atau di sore hari beriman, namun di pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim, no. 118)
Hadis ini memberikan peringatan keras akan bahaya menunda amal shalih. Di zaman penuh fitnah seperti hari ini, perubahan iman seseorang bisa sangat cepat. Oleh karena itu, menunda kebaikan bisa berarti kehilangan kesempatan yang tak akan kembali.
Dalam perjalanan hidup ini, kita memang tidak selalu dalam keadaan semangat. Namun, mendisiplinkan jiwa agar tetap taat dan berbuat baik adalah kunci istiqamah. Rasulullah saw bersabda:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini menunjukkan bahwa konsistensi dalam kebaikan lebih utama daripada intensitas sesaat. Maka, jangan menunggu waktu luang untuk bersedekah, jangan menunggu hari tenang untuk membaca Al-Qur’an, dan jangan menunggu sempurna untuk mulai berubah menjadi lebih baik.
Waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad saw bersabda:
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya untuk apa ia amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HR. Tirmidzi, no. 2417)
Betapa berat pertanggungjawaban itu! Maka gunakanlah waktu kita untuk menebar kebaikan: mengucapkan kata yang lembut, membantu orang yang membutuhkan, menolong yang lemah, mengajarkan ilmu, atau sekadar tersenyum yang tulus.
Jangan biasakan berkata “nanti saja”, karena itu bisa menjadi tameng yang membunuh semangat kebaikan.
Kebaikan yang terus diabaikan bisa jadi tidak akan kembali menghampiri, dan bisa digantikan dengan kejahatan yang mengambil alih hati kita. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jika hati terus menolak kebaikan, ia bisa menjadi keras dan tertutup dari cahaya. Maka, biarkan kebaikan tinggal di hati kita dan tumbuh menjadi amal nyata.
Mari kita jadikan setiap detik dalam hidup ini sebagai ladang untuk menanam amal shaleh. Jangan menunda, jangan menunggu, dan jangan malas. Sebab kesempatan tidak datang dua kali, dan waktu tidak akan pernah kembali.
Bersabda Nabi Muhammad saw:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang sakitmu, masa kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang sibukmu, dan hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 7846)
Semoga Allah menganugerahkan kepada kita taufiq dan hidayah-Nya agar mampu bersegera dalam kebaikan, istikamah dalam amal, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah. (*)
