Menyalakan Obor Peradaban: Komitmen Muhammadiyah di Hari Pendidikan Nasional

*) Oleh : Andi Hariyadi
Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya
www.majelistabligh.id -

Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa sangat bergantung pada bagaimana kebijakan pendidikan dirancang: apakah hanya bersifat tambal sulam yang tidak menyentuh akar persoalan, ataukah dirancang secara terencana dan berkelanjutan.

Di sinilah pentingnya pendidikan sebagai salah satu pilar utama dalam menyongsong masa depan yang lebih baik.

“Indonesia Emas 2045” sebagai penanda seratus tahun kemerdekaan bangsa adalah cita-cita besar untuk melepaskan diri dari belenggu ketertindasan, kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan.

Harapannya, bangsa ini mampu menjadi bangsa yang berdaulat, sejahtera, makmur, bersatu, adil, serta mampu melanjutkan perjuangan para pahlawan melalui kehadiran generasi pembelajar yang unggul dan berprestasi.

Sejak awal berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912, KH Ahmad Dahlan sebagai pendiri organisasi ini sudah menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi bangsa. Beliau menginisiasi pendirian lembaga-lembaga pendidikan sebagai pintu pembuka wawasan kebangsaan, penguat kesadaran akan persatuan, penumbuh karakter berlandaskan akhlaqul karimah, serta penggerak penguasaan teknologi yang terintegrasi dengan nilai-nilai spiritual yang mencerahkan.

Para pimpinan Muhammadiyah dari tingkat pusat hingga ranting, termasuk yang berada di pelosok dan daerah tertinggal, senantiasa hadir dalam pembangunan infrastruktur pendidikan. Hal ini sudah dilakukan bahkan sejak 33 tahun sebelum Indonesia merdeka.

Komitmen itu terus digerakkan hingga kini dan masa mendatang, terutama mengingat luasnya wilayah Indonesia yang menuntut perluasan akses pendidikan secara merata.

Pendidikan yang dikembangkan Muhammadiyah merupakan bentuk nyata dari komitmen dakwah para pimpinan dan anggota organisasi untuk menjadikan dunia pendidikan sebagai medan perjuangan.

Mengingat tantangan ke depan semakin kompleks, maka kebijakan dan implementasi pendidikan harus benar-benar dirancang secara serius dan menyeluruh.

Kondisi bangsa yang masih memprihatinkan harus menjadi refleksi bersama. Di tengah melimpahnya sumber daya alam, masih banyak rakyat yang hidup dalam penderitaan.

Kekayaan yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan justru sering disalahgunakan demi kepentingan segelintir orang melalui praktik korupsi yang luar biasa besarnya. Potensi anak-anak Indonesia yang begitu besar pun belum dioptimalkan untuk kemajuan bangsa.

Muhammadiyah hadir untuk mempercepat pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan yang unggul, berprestasi, dan berkarakter.

Pendidikan Muhammadiyah menekankan pada pembentukan karakter spiritual, semangat belajar, persatuan, serta jiwa patriotisme yang kuat untuk membangun kejayaan bangsa Indonesia.

Tema Hari Pendidikan Nasional 2025 adalah: “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Prof. Abdul Mu’ti sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah mengajak seluruh elemen bangsa untuk berpartisipasi dan berkontribusi dalam dunia pendidikan.

Diperlukan solusi yang komprehensif dan semangat kebersamaan untuk memajukan pendidikan Indonesia. Saatnya kita melakukan aksi kolaborasi, bukan saling mencaci yang hanya akan mengaburkan substansi persoalan.

Pendidikan yang bermutu, baik dari sisi akademik maupun non-akademik, akan melahirkan generasi yang mampu bersaing di tingkat global.

Mari kita sambut hadirnya generasi emas Indonesia: mereka yang memiliki spiritualitas dan akhlak yang baik, penguasaan ilmu dan keterampilan yang maju, serta daya tahan fisik dan mental yang kuat.

Namun, kita juga harus prihatin atas berbagai tantangan yang masih menghantui dunia pendidikan, seperti kekerasan terhadap anak, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, serta menurunnya semangat juang.

Peran pendidikan sangatlah penting, dan tugas para pendidik begitu mulia. Karena itu, mereka harus disejahterakan. Jangan sampai guru yang menginspirasi dan memotivasi siswa justru mengalami kekurangan gizi atau hidup dalam kesulitan.

Para guru ditantang untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan zaman. Mereka tidak boleh stagnan dan harus siap menghadapi percepatan perubahan.

Proses pembelajaran yang menyenangkan akan membangkitkan semangat belajar dan mendorong lahirnya inovasi dan ide-ide cemerlang.

Untuk itu, tujuh kebiasaan yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah perlu ditanamkan dengan kuat dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan membawa perubahan besar.

Penguatan karakter melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia diharapkan menjadi bagian dari proses pembelajaran, yaitu: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, senang belajar, aktif bermasyarakat, dan tidur tepat waktu.

Anak-anak Indonesia harus tumbuh sebagai generasi yang sehat jasmani dan rohani, penuh semangat dalam belajar, kreatif dalam berkarya, dan mampu berinteraksi secara produktif dan konstruktif.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Mari tingkatkan partisipasi demi pendidikan yang berkualitas untuk semua. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search