Menyambut Ramadan dengan Jiwa yang Sederhana

Menyambut Ramadan dengan Jiwa yang Sederhana
*) Oleh : Fathan Faris Saputro
Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi MPID PDM Lamongan
www.majelistabligh.id -

Ramadan merupakan bulan yang senantiasa dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Kehadirannya tidak hanya menandai kewajiban ibadah tahunan, tetapi juga menjadi ruang pembinaan jiwa agar kembali pada kesederhanaan dan ketulusan. Setiap Muslim berharap Ramadan menghadirkan keberkahan, ampunan, serta peningkatan kualitas keimanan. Namun, harapan tersebut hanya akan terwujud apabila Ramadan disambut dengan jiwa yang sederhana, tidak berlebihan, dan berorientasi pada pemurnian hati.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 18 Februari 2026. Penetapan ini menjadi penanda bagi umat Islam untuk mempersiapkan diri secara menyeluruh, baik lahir maupun batin. Lebih dari sekadar kepastian waktu, keputusan ini mengingatkan pentingnya kesiapan spiritual. Ramadan idealnya disambut dengan kesadaran untuk hidup lebih sederhana, tertib, dan bermakna.

Dalam ajaran Islam, hati atau qalb memiliki kedudukan yang sangat sentral. Hati merupakan pusat niat, tempat bersemayamnya iman, sekaligus penentu nilai suatu amal. Rasulullah saw. menegaskan bahwa baik dan buruknya manusia sangat bergantung pada kondisi hatinya. Oleh karena itu, kesederhanaan jiwa sejatinya berawal dari hati yang bersih dan tidak dipenuhi ambisi duniawi.

Islam memandang hati bukan sekadar organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual manusia. Al-Qur’an menjelaskan bahwa hati yang jernih akan mudah menerima petunjuk Allah Swt. Sebaliknya, hati yang dipenuhi kesombongan, iri, dan cinta berlebihan pada dunia akan sulit menangkap kebenaran. Ramadan hadir sebagai momentum untuk membersihkan hati agar kembali sederhana dan tunduk pada nilai ilahiah.

Puasa Ramadan mengajarkan makna kesederhanaan secara nyata. Puasa mendidik manusia untuk tidak selalu menuruti nafsu dan tidak hidup berlebihan. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa kesederhanaan adalah jalan menuju ketakwaan.

Dalam perspektif ulama, puasa memiliki dimensi penyucian jiwa yang mendalam. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa sejati adalah puasa hati dari segala hal yang melalaikan. Menjaga lisan, pandangan, dan niat merupakan bagian dari kesempurnaan puasa. Kesederhanaan jiwa menjadi penopang utama agar puasa tidak kehilangan makna.

Menata hati sebelum Ramadan merupakan langkah penting agar ibadah tidak terjebak pada rutinitas formal. Tanpa persiapan batin, Ramadan berisiko dijalani secara seremonial dan kehilangan daya transformasinya. Jiwa yang sederhana membantu seseorang memasuki Ramadan dengan sikap rendah hati. Dari sinilah ibadah dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar kebiasaan.

Kesederhanaan jiwa juga tercermin dalam hubungan sosial selama Ramadan. Puasa menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan. Rasa lapar dan haus mengajarkan kepekaan sosial serta kepedulian. Ramadan menjadi ruang latihan untuk berbagi, bukan memamerkan kemewahan.

Di tengah budaya konsumtif yang kerap mengiringi Ramadan, pesan kesederhanaan menjadi semakin relevan. Tidak jarang Ramadan justru identik dengan pemborosan dan euforia berlebihan. Padahal, esensi Ramadan adalah menahan diri dan menyederhanakan gaya hidup. Jiwa yang sederhana membantu umat Islam tetap fokus pada tujuan ibadah.

Ramadan sejatinya adalah sekolah pembentukan karakter. Kesederhanaan, keikhlasan, dan kesabaran diajarkan secara bertahap melalui ibadah puasa. Nilai-nilai ini diharapkan tidak berhenti setelah Ramadan usai. Dengan demikian, Ramadan menjadi titik awal perubahan yang berkelanjutan.

Menyambut Ramadan dengan jiwa yang sederhana berarti menata hati, meluruskan niat, dan membatasi keinginan duniawi. Kesederhanaan bukan berarti kekurangan, melainkan kebijaksanaan dalam bersikap. Semoga Ramadan yang dimulai pada 18 Februari 2026 benar-benar menjadi momentum pemurnian jiwa. Dengan hati yang bersih dan hidup yang bersahaja, Ramadan akan menghadirkan keberkahan yang hakiki. (*)

Tinggalkan Balasan

Search