Merawat Kebhinnekaan: Perbedaan Jadi Energi Kemajuan Bangsa

Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I.
www.majelistabligh.id -

Suasana hangat dan penuh kekhusyukan menyelimuti Majelis Kajian Matahari Terbit di Masjid Jenderal Sudirman, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng, Kota Surabaya, Ahad (4/10/2026).

Dalam forum Ngaji Kebangsaan tersebut, Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I., menyampaikan pesan mendalam mengenai “Implementasi Fikih Kebhinnekaan Muhammadiyah”.

Di hadapan para jamaah, Gus Sholikh mengingatkan kembali fakta sejarah bahwa Indonesia adalah rumah besar yang berdiri di atas keberagaman.

“Dengan lebih dari 1.300 suku bangsa, 718 bahasa daerah, serta keberagaman agama dan kepercayaan, keanekaragaman ini membutuhkan kerangka etika yang kuat agar menjadi kekuatan bangsa, bukan pemicu perpecahan,” jelas Gus Sholikh, sapaan akrab Wakil Ketua Sekolah Pascasarjana UMSURA itu.

Menurutnya, pedoman paling fundamental dalam mengelola keberagaman tersebut tertuang dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13. Ayat ini menegaskan bahwa Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal, di mana ukuran kemuliaan sejati di sisi Allah bukanlah nasab atau status sosial, melainkan tingkat ketakwaan.

Dari Toleransi Pasif Menuju Kerja Sama Nyata

Gus Sholikh menjelaskan bahwa kata kunci lita’ārafū (agar saling mengenal) tidak boleh berhenti pada sikap toleransi pasif semata. Muhammadiyah memandangnya sebagai dorongan untuk membangun kerja sama yang nyata di tengah masyarakat.

“Dalam perspektif Muhammadiyah, ta’aruf harus berkembang, dari saling mengenal, memahami, menghargai, bekerja sama, hingga akhirnya bersama-sama membangun peradaban. Keberagaman bukan lagi sekadar fakta, melainkan modal untuk berkolaborasi,” tutur Gus Sholikh.

Prinsip tauhid, lanjutnya, adalah fondasi utama dari kesetaraan manusia. Ketika seorang Muslim menyadari bahwa hanya Allah yang patut disembah, maka ia tidak akan pernah mempertuhankan sesama manusia, materi, ataupun kelompoknya. Tauhid membebaskan manusia dan menempatkan setiap orang pada derajat kemanusiaan yang sama.

Terbuka dan Berjiwa Kosmopolitan

Gus Sholikh juga mengkritik sikap eksklusif atau fanatisme kelompok yang sempit (ashabiyah). Meskipun Muhammadiyah memiliki identitas organisasi yang kuat, identitas tersebut tidak boleh berubah menjadi benteng yang memisahkan diri dari masyarakat luas.

“Identitas organisasi itu penting, tetapi tidak boleh menjadi tembok tebal yang menutup diri dari kemanusiaan universal. Seorang warga Muhammadiyah harus berjiwa terbuka. Ia adalah seorang Muslim, kader Muhammadiyah, warga negara Indonesia, sekaligus bagian dari warga dunia,” tegasnya.

Sikap moderat (wasathiyah) inilah yang menjadi ciri khas Islam Berkemajuan. Akidah yang kokoh tidak boleh melahirkan sikap sosial yang tertutup. Seorang Muslim berkemajuan mampu menjaga keyakinannya sekaligus tetap santun, mau berdialog, menolak kekerasan, dan siap memperjuangkan keadilan bersama siapa saja.

Mengakhiri kajiannya, Gus Sholikh menekankan peran Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid (pembaruan). Pembaruan tidak hanya berarti memurnikan ajaran agama dari hal-hal yang menyimpang, tetapi juga mendinamisasi pemikiran agar Islam selalu menjadi solusi atas tantangan zaman.

“Perbedaan di sekitar kita adalah takdir yang indah. Tugas kita sekarang adalah mengubah fakta keberagaman tersebut menjadi energi besar untuk kemajuan bangsa dan kemanusiaan,” pungkasnya.

Melalui ngaji kebangsaan ini, jamaah diajak untuk membawa pulang semangat inklusif. Menjadikan masjid bukan hanya tempat beribadah ritual, tetapi juga pusat penyebaran nilai-nilai kedamaian dan keharmonisan bagi seluruh elemen masyarakat. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search