*)Oleh: Muhammad Nashihudin MSI
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur
Merdeka dari kemusyrikan! Kemerdekaan dari kemusyrikan berarti bebas dari segala bentuk penyembahan atau pengabdian kepada selain Allah SWT.
Pentingnya Merdeka dari Kemusyrikan
1. Tauhid: Merdeka dari kemusyrikan berarti memiliki tauhid yang murni dan tidak menyekutukan Allah SWT dengan apapun.
2. Ketaatan: Merdeka dari kemusyrikan berarti memiliki ketaatan yang penuh kepada Allah SWT dan tidak mengikuti ajaran atau perintah selain-Nya.
3. Keselamatan: Merdeka dari kemusyrikan berarti memiliki keselamatan di dunia dan akhirat, karena Allah SWT akan melindungi dan memberi rahmat kepada orang-orang yang beriman dan tidak menyekutukan-Nya.
Cara Merdeka dari Kemusyrikan
1. Mempelajari Ajaran Islam: Mempelajari ajaran Islam yang benar dan memahami konsep tauhid dapat membantu seseorang merdeka dari kemusyrikan.
2. Menghindari Perbuatan Syirik: Menghindari perbuatan syirik seperti menyembah berhala, meminta bantuan kepada makhluk lain, atau mengikuti ajaran yang tidak sesuai dengan Islam dapat membantu seseorang merdeka dari kemusyrikan.
3. Mengembangkan Iman: Mengembangkan iman dan ketaatan kepada Allah SWT dapat membantu seseorang merdeka dari kemusyrikan.
Manfaat Merdeka dari Kemusyrikan
1. Keselamatan di Dunia dan Akhirat: Merdeka dari kemusyrikan dapat membawa keselamatan di dunia dan akhirat.
2. Ketenangan Jiwa: Merdeka dari kemusyrikan dapat membawa ketenangan jiwa dan kebahagiaan.
3. Pengampunan Allah SWT: Merdeka dari kemusyrikan dapat membawa pengampunan Allah SWT dan rahmat-Nya.
Pelajaran yang Dapat Diambil
1. Pentingnya Tauhid: Merdeka dari kemusyrikan menekankan pentingnya tauhid dan ketaatan kepada Allah SWT.
2. Bahaya Kemusyrikan: Merdeka dari kemusyrikan juga menekankan bahaya kemusyrikan dan pentingnya menghindari perbuatan syirik.
Dengan memahami konsep merdeka dari kemusyrikan, kita dapat meningkatkan kesadaran kita tentang pentingnya tauhid dan ketaatan kepada Allah SWT, serta menghindari perbuatan syirik dan mengembangkan iman demi keselamatan di dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۗ وَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَوْلِيٰۤــئُهُمُ الطَّا غُوْتُ ۙ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِ ۗ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّا رِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
“Allah Pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 257)
Adapun keselamatan dan kemerdekaan sesungguhnya adalah ketika manusia hanya menyembah Allah swt semata tanpa kemusyrikan.
Tugas utama para nabi dan rasul adalah untuk membebaskan manusia dari menyembah makhluk tetapi beribadah hanya untuk Allah swt. Kemusyrikan adalah kegelapan yang tidak berujung sedangkan bertauhid adalah kepastian untuk kehidupan yang lurus dan benar.
Mentadabburi ayat ayat berikut ini agar terhindar dari dosa besar.
1. Tugas para Nabi dan Rasul Memerdekaan ummat manusia dari kemusyrikan
وَلَـقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَا جْتَنِبُوا الطَّا غُوْتَ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَا نْظُرُوْا كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang Rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut”, kemudian di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang tetap dalam kesesatan. Maka berjalanlah kamu di Bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan
(rasul-rasul).”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 36)
2. Kelemahan perlindungan selain Allah swt
يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَا سْتَمِعُوْا لَهٗ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَا بًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗ وَاِ نْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَا بُ شَيْـئًـا لَّا يَسْتَـنْـقِذُوْهُ مِنْهُ ۗ ضَعُفَ الطَّا لِبُ وَا لْمَطْلُوْبُ
“Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.
Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 73)
