*)Oleh: M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
Ia bukan sekadar slogan, tapi sebuah deklarasi jiwa yang merdeka—bebas dari belenggu pencitraan, tekanan sosial, dan standar duniawi yang sering kali menjauhkan kita dari hakikat hidup.
Dalam dunia yang dipenuhi ekspektasi sosial, tekanan budaya, dan pencitraan digital, merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik. Merdeka adalah keberanian ruhani untuk memilih rida Allah di atas segala bentuk pengakuan manusia. Ini adalah bentuk kebebasan tertinggi yang tidak bisa dibeli, diwariskan, atau dipaksakan.
1. Hakikat Merdeka dalam Perspektif Tauhid
Merdeka sejati adalah ketika hati tidak terikat pada pujian, popularitas, atau validasi eksternal.
Dalam Islam, kebebasan hakiki lahir dari tauhid:
• La ilaha illallah berarti tidak ada yang layak disembah, ditakuti, atau diharapkan selain Allah.
• Ketika ridho Allah menjadi tujuan utama, kita terbebas dari belenggu duniawi yang menyesatkan.
2. Rida Manusia: Cermin atau Belenggu?
Rida manusia bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi ia tidak boleh menjadi kompas utama.
• Jika rida manusia selaras dengan ridaAllah, maka ia menjadi berkah.
• Namun jika bertentangan, maka ia menjadi ujian: apakah kita tetap teguh atau tergoda?
Contoh nyata bisa dilihat dalam kisah para nabi, wali, dan pejuang kebenaran yang tetap istiqamah meski ditolak oleh kaumnya.
3. Tantangan dan Jalan Hijrah
Memilih rida Allah sering kali berarti menempuh jalan yang sunyi, tidak populer, bahkan penuh risiko. Tapi di sanalah letak kemerdekaan ruhani:
• Kita belajar sabar, ikhlas, dan yakin bahwa Allah cukup.
• Kita hijrah dari pencitraan menuju keikhlasan, dari keramaian menuju ketenangan.
Merdeka Itu Muamalah dengan Allah
Ketika kita memilih rida Allah, kita sedang membebaskan diri dari penjara ekspektasi manusia. Kita menjadi hamba yang merdeka yang berjalan di bumi dengan hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan langkah yang mantap.
Berikut beberapa ayat yang menjadi fondasi spiritual dari prinsip tersebut:
1. QS. At-Taubah: 59
وَلَوْ اَنَّهُمْ رَضُوْا مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۙ وَقَالُوْا حَسْبُنَا اللّٰهُ سَيُؤْتِيْنَا اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ وَرَسُوْلُهٗٓ اِنَّآ اِلَى اللّٰهِ رٰغِبُوْنَ ࣖ
Seandainya mereka benar-benar rida dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Allah dan Rasul-Nya, dan berkata, “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya, dan (demikian pula) Rasul-Nya. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang selalu hanya berharap kepada Allah.”
Ayat ini menegaskan bahwa rida kepada Allah dan Rasul adalah bentuk keimanan yang merdeka tidak bergantung pada pemberian manusia, melainkan yakin pada karunia Ilahi.
2. QS. Al-Bayyinah : 8
جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ ࣖ
Balasan mereka di sisi Tuhannya adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.
Makna dari ayat tersebut adalah : Merdeka adalah ketika kita hidup dalam keselarasan dengan rida Allah. Orang-orang yang takut kepada Allah dan mengutamakan-Nya akan mendapatkan rida dan surga sebagai balasan.
3. QS. Yunus: 3
اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْاَمْرَۗ مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اِذْنِهٖۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْهُۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ
Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa,) kemudian Dia bersemayam di atas ʻArasy) (seraya) mengatur segala urusan. Tidak ada seorang pun pemberi syafaat, kecuali setelah (mendapat) izin-Nya. Itulah Allah, Tuhanmu. Maka, sembahlah Dia! Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Makna: Ayat ini mengingatkan bahwa ridho terhadap dunia semata adalah bentuk keterikatan yang membelenggu. Merdeka berarti tidak puas dengan dunia, tapi mengarahkan hati kepada akhirat dan perjumpaan dengan Allah. (*)
