Pada 94 tahun silam, melalui keputusan Kongres Muhammadiyah–Aisyiyah ke-20, 16 Mei 1931 M yang bertepatan dengan 28 Dzulhijah 1349 H, ditetapkan sebagai hari lahir Nasyiatul ‘Aisyiyah.
Sebuah wadah bagi para putri Muhammadiyah yang gesit, cerdas, memiliki motivasi besar untuk belajar, dan tidak ingin hidup sekadar untuk hidup, tetapi juga untuk memberi manfaat bagi sesama.
Seperti diputarkan dalam film, dokumentasi-dokumentasi perkembangan Nasyiatul ‘Aisyiyah dalam buku Sejarah Nasyiatul Aisyiyah mewarnai pikiran dan menyentuh perasaan hingga tak henti-henti terucap syukur dan kalimat tasbih—semakin menambah haru sekaligus memotivasi.
Segala puji bagi Allah Swt., anugerah usia ke-94 M / 97 H untuk Nasyiatul ‘Aisyiyah adalah bukti komitmen para putri Islam—perempuan muda Muhammadiyah—dalam memperjuangkan dakwah Islam amar ma’ruf nahi mungkar, serta terus menunjukkan peran strategis dalam membina perempuan muda yang tangguh, berkemajuan, dan mencerahkan peradaban.
“Perempuan Tangguh, Cerahkan Peradaban” menjadi tema pilihan untuk Milad tahun ini. Selain sebagai refleksi atas dedikasi kader Nasyiah di berbagai lini kehidupan, baik pendidikan, dakwah, sosial, maupun kemanusiaan, tema ini juga menjadi cermin identitas Nasyiatul ‘Aisyiyah, baik sebagai pribadi maupun organisasi, serta menjadi arah perjuangan di masa mendatang.
Nasyiatul ‘Aisyiyah telah membuktikan bahwa ketangguhan membutuhkan keberanian untuk terus belajar dan beradaptasi, kekuatan untuk tetap berdiri di tengah ujian, dan ketulusan untuk melayani tanpa pamrih.
Perempuan tangguh adalah mereka yang berpikir kritis, bertindak bijak, dan berdaya secara spiritual, intelektual, serta sosial—mampu menjadi agen perubahan.
Dengan kokohnya iman, kuatnya fisik, semangat al-Ma’un, serta prinsip kesetaraan, perempuan tangguh mampu menggerakkan keluarga, mendidik generasi, membangun masyarakat, dan menyuarakan keadilan demi terwujudnya Islam rahmatan lil-‘alamin.
Pada era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang penuh dengan perubahan ini, Nasyiatul ‘Aisyiyah dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari krisis identitas, krisis kepercayaan, persoalan moral dan kemanusiaan, hingga perubahan iklim.
Namun, Nasyiatul ‘Aisyiyah percaya bahwa dengan memegang teguh dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam Berkemajuan, semangat Keluarga Muda Tangguh, komitmen kader, dan semangat kolektif-kolegial, Nasyiatul ‘Aisyiyah dapat menjadi pelita bagi peradaban.
Peradaban utama lahir dari nilai-nilai luhur, majunya ilmu pengetahuan, budaya, dan kemanusiaan. Kebangkitan peradaban tak bisa dilepaskan dari peran perempuan. Perempuan tangguh adalah fondasi awal dari lahirnya generasi yang unggul.
Sejarah Islam menorehkan betapa besar pengaruh perempuan—seperti Siti Hajar, dari beliau kita belajar tentang makna tawakal, dan keteladanannya diabadikan dalam ibadah haji. Kita
belajar tentang keteguhan iman dari Asiyah, istri Fir‘aun, yang meskipun seorang diri mampu menghadapi kekuasaan zalim dan menjadi pelindung bagi kaum lemah.
Dari Ratu Bilqis kita belajar tentang keterbukaan pikiran dan kemauan menerima kebenaran—salah satu fondasi kebijaksanaan—hingga mampu memimpin Negeri Saba’ dan memakmurkan rakyatnya.
Kita juga belajar bahwa peradaban Islam tak lepas dari peran Siti Khadijah yang selalu setia, percaya, dan mandiri dalam mendukung Rasulullah Muhammad saw dalam menyebarluaskan dakwah Islam.
Tentu tak lupa kita meneladani Siti Aisyah, istri Rasulullah, yang cerdas, kritis, piawai dalam bertutur, dan memimpin, membuktikan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung kesetaraan gender.
Masih banyak perempuan-perempuan tangguh lainnya yang berperan dalam membangun peradaban yang bisa kita teladani, khususnya para tokoh perempuan di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah seperti Nyai Siti Walidah yang telah mendidik dan membina para wanita sebagai calon pemimpin Islam. Siti Munjiyah, ulama perempuan yang militan, tenang, inklusif, dan toleran—selalu berpenampilan sederhana meskipun anak lurah, dan tidak menyukai perhiasan mewah.
Siti Hayinah, aktivis yang paham betul posisi perempuan dalam Islam, berwawasan luas, gemar membaca, dan termasuk perintis majalah Suara ‘Aisyiyah.
Siti Bariyah, Ketua ‘Aisyiyah pertama yang dipercaya dan memiliki otoritas penuh sebagai penafsir tujuan gerakan Muhammadiyah, serta termasuk perintis Siswa Proyo Wanita (cikal bakal Nasyiatul ‘Aisyiyah). Serta tokoh-tokoh lainnya yang memiliki kontribusi penting dalam perkembangan peradaban hingga saat ini.
Dengan semangat Milad tahun ini, mari kita lanjutkan perjuangan para perempuan tangguh yang telah memberi pencerahan pada peradaban.
Mari kita perkuat militansi dalam bernasyiah, perluas kebermanfaatan, dan terus hadir di tengah umat sebagai perempuan yang tangguh dan mencerahkan. Mencerahkan berarti membawa harapan, membangun keadaban, dan memuliakan kehidupan manusia.
Selamat Milad ke-94 M / 97 H Nasyiatul ‘Aisyiyah.
Perempuan tangguh, cerahkan peradaban dengan cinta, kecerdasan, dan keteladanan.
Al-birru manittaqa. (*)
