Sebagai makhluk spiritual, manusia mengenal dunia jauh melampaui apa yang dapat dilihat mata dan didengar telinga. Ada pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman, ada yang lahir dari proses berpikir, ada yang tumbuh dari ketajaman batin, dan dalam keyakinan agama ada pengetahuan yang bersumber dari wahyu.
Karena itu, dalam tradisi keilmuan Islam, pengetahuan tidak hanya memiliki satu pintu. Akal, indera, pengalaman, hati, dan wahyu memiliki tempatnya masing-masing. Semuanya dapat menjadi jalan manusia untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah.
Pertama adalah akal (al-‘aql). Dengan akal, manusia menalar, membandingkan, menganalisis, melakukan deduksi, lalu menarik kesimpulan. Akal memungkinkan manusia membaca keteraturan alam, menemukan hubungan sebab-akibat, bahkan membayangkan sesuatu (ide) yang belum pernah ada dan dilihat sebelumnya.
Kedua adalah indera dan pengalaman empiris (al-hiss wa al-tajribah). Mata mengamati, telinga mendengar, tangan menyentuh, dan pengalaman menguji. Dari pengamatan yang berulang, manusia membangun pengetahuan. Ilmu pengetahuan modern berkembang sangat pesat melalui jalan ini, mengamati, merumuskan, menguji, menemukan, lalu mengoreksi.
Ketiga adalah hati atau intuisi (al-qalb). Dalam khazanah tasawuf dikenal istilah “dzauq” yaitu kemampuan merasakan sesuatu secara batiniah. Ada pula ilham dan kasyf, ketika seseorang memperoleh pemahaman yang tidak sepenuhnya lahir dari proses berpikir rasional.
Keempat adalah wahyu. Inilah sumber pengetahuan yang bersifat ilahiah dan memiliki kedudukan paling khusus. Wahyu bukan hasil kemampuan manusia. Ia berasal dari Allah Swt dan disampaikan kepada para nabi dan rasul sebagai petunjuk bagi manusia.
Lalu, di mana posisi mimpi?
Pertanyaan ini menarik karena mimpi berada di wilayah pertemuan antara pengalaman manusia, alam batin, dan kemungkinan hadirnya pesan spiritual. Karena itu, mimpi tidak cukup dipahami hanya sebagai bunga tidur, tetapi juga tidak boleh diperlakukan sebagai wahyu.
Dalam khazanah Islam, mimpi memiliki beberapa bentuk dan tingkatan pengalaman. Hilm, misalnya, lebih dekat dengan mimpi yang lahir dari gejolak diri, pikiran, pengalaman, kekhawatiran, atau dorongan nafsu. Apa yang kita pikirkan pada siang hari kadang terbawa ke dalam tidur. Karena itu, tidak semua mimpi memiliki makna spiritual.
Ada pula ru’yah, terutama ru’yah shadiqah, yaitu mimpi yang benar. Dalam hadis, Rasulullah saw menyebut ru’yah shalihah sebagai bagian dari kabar gembira. Mimpi semacam ini dapat menjadi penghiburan, peringatan, atau isyarat personal bagi seseorang.
Namun, ru’yah tetap bukan wahyu.
Setelah wafatnya Rasulullah saw, tidak ada wahyu kenabian yang turun kepada manusia. Karena itu, seseorang tidak dapat menjadikan mimpi sebagai dasar untuk menetapkan halal dan haram, membuat syariat baru, atau memaksakan suatu keyakinan kepada orang lain.
Di sinilah pentingnya memahami istilah manamat, waqi’ah, dan mukasyafah. Manamat dapat dipahami sebagai pengalaman batin yang berlangsung dalam keadaan tidur. Pengalaman itu bisa saja bermakna, tetapi bisa pula bercampur dengan imajinasi, ingatan, emosi, dan pengalaman psikologis seseorang.
Sementara waqi’ah menunjuk pada pengalaman batin yang lebih dalam. Ia tidak selalu dapat dijelaskan hanya sebagai mimpi biasa. Dalam pengalaman spiritual seseorang, terdapat kemungkinan hadirnya kesadaran atau penangkapan batin terhadap sesuatu yang sebelumnya tidak disadari.
Pada tingkat yang lebih tinggi dikenal istilah mukasyafah. Secara sederhana, mukasyafah berarti tersingkapnya sesuatu yang sebelumnya tertutup. Dalam tradisi tasawuf, ia menunjuk pada terbukanya pemahaman batin terhadap sesuatu yang tidak mudah ditangkap oleh indera maupun penalaran biasa.
Yang menarik, mukasyafah tidak selalu terjadi dalam keadaan tidur. Ia dapat terjadi ketika seseorang terjaga. Karena itu, mukasyafah sesungguhnya lebih luas daripada mimpi.
Perasaan dapat keliru. Imajinasi dapat bekerja sangat kuat. Ingatan dapat membentuk ulang pengalaman. Bahkan seseorang dapat merasa sangat yakin terhadap sesuatu yang sebenarnya hanya konstruksi pikirannya sendiri.
Karena itu, dalam Islam terdapat prinsip penting, pengalaman spiritual tidak boleh berjalan tanpa panduan.
Akal tetap diperlukan. Indera tetap digunakan. Ilmu tetap dipelajari. Pengalaman tetap diuji. Hati perlu dijernihkan. Dan semuanya harus berada dalam bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah.
Dengan demikian, kita tidak sedang mempertentangkan akal dengan hati, atau ilmu empiris dengan pengalaman spiritual. Justru semuanya dapat ditempatkan secara integratif.
Akal membaca tanda. Indera menangkap gejala. Pengalaman menguji. Hati merasakan. Wahyu memberi petunjuk dan batas. Mimpi berada di wilayah pengalaman batin yang perlu dibaca secara hati-hati.
Semakin tinggi seseorang mengklaim pengalaman spiritualnya, semestinya semakin rendah hati pula ia terhadap kemungkinan kesalahan dirinya. Di sinilah konsep divine knowledge menjadi penting, terutama dalam konteks perguruan tinggi keagamaan.
Semakin luas ilmu seseorang, semestinya semakin luas pula kesadarannya tentang betapa sedikit yang diketahuinya. Dan semakin dalam pengalaman spiritualnya, semestinya semakin rendah hati ia di hadapan Allah Yang Mahatahu. (*)
