Deru mesin kendaraan relawan memecah keheningan siang di Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (20/1/2026) pukul 13.00 WIB. Para pejuang kemanusiaan dengan seragam oranye dan biru—identitas kebanggaan MDMC, Lazismu Jatim, hingga utusan Universitas dan Rumah Sakit Muhammadiyah se-Jawa Timur—berkumpul membentuk barisan solid di halaman Masjid Baiturrahim. Mereka datang dengan satu mantra yang tertanam kuat di sanubari: Bahagia dan Membahagiakan.
Militansi mereka bukan tanpa dasar. Harun Arafat, sang nahkoda kluster Manajemen Posyan, menekankan bahwa seorang relawan harus memiliki tangki kebahagiaan yang penuh sebelum mampu membasuh luka orang lain.
“Jika kita tidak bahagia, bagaimana mungkin kita bisa memberikan senyum tulus kepada mereka yang kehilangan segalanya?” ucapnya sembari memantau logistik.

Selama dua setengah jam yang intens, mereka berbaur, merangkul pundak para penyintas, dan menanamkan kembali benih optimisme yang sempat luruh.
Sebanyak 235 paket sembako dan hygiene kit telah dipilah secara presisi berdasarkan kebutuhan mendesak warga. Sebuah pemetaan yang detail memastikan bahwa Rabu (21/1/2026) hari ini, bantuan akan mendarat tepat sasaran: 96 paket untuk Dusun Anggrek, 46 untuk Dusun Melati, dan 93 untuk Dusun Tanjung.
Kolektivitas ini adalah orkestra kemanusiaan yang indah, di mana setiap Ortom memainkan perannya demi satu simfoni; melihat warga Tamiang kembali tersenyum di akhir acara pada pukul 15.30 WIB.
Ketangguhan para relawan ini seolah menjadi antitesis dari kehancuran yang dibawa oleh banjir bandang. Di sela-sela koordinasi yang ketat, tak jarang terlihat tawa kecil pecah saat para relawan bercanda dengan anak-anak desa, seolah sedang menghapus bayang-bayang air bah yang menakutkan dengan warna-warni kegembiraan.
Sinergi antara MDMC, Lazismu, universitas, hingga rumah sakit Muhammadiyah dari Jawa Timur ini bukan hanya sekadar operasional teknis, melainkan sebuah manifestasi dari ajaran KH. Ahmad Dahlan yang menekankan bahwa sedikit bicara dan banyak bekerja adalah kunci utama dalam memanusiakan manusia di tengah kemelut bencana. (yusuf dwipa wijaya)
