Hubungan antara Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah diibaratkan seperti dua sisi dari satu mata uang. Meski memiliki ranah dan medan dakwah yang berbeda, keduanya merupakan satu kesatuan tak terpisahkan yang saling melengkapi dan menguatkan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, dalam acara Hari Bermuhammadiyah yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Utara, Ahad (11/10/2026).
Dalam orasinya, Muhadjir menekankan bahwa keterikatan kuat antara kedua organisasi ini bersumber dari ideologi yang sama serta komitmen pengabdian sosial yang berkesinambungan. Ia menggambarkan keterpaduan tersebut melalui makna mendalam di balik dua lagu identitas gerakan: Sang Surya dan Mars ‘Aisyiyah.
“Lirik Sang Surya memuat identitas dan orientasi perjuangan Muhammadiyah yang bersumber langsung dari ajaran Nabi Muhammad saw. Muhammadiyah itu bukan salafiyah, bukan pula Dahlaniyah. Muhammadiyah adalah Muhammadiyah,” ujar Muhadjir.
Sementara itu, Mars ‘Aisyiyah mencerminkan bagaimana ideologi tersebut diterjemahkan ke dalam kerja nyata dan pengabdian masyarakat, sebagaimana terpancar dalam lirik ‘Mari beramal dan berdarma bakti, membangun negara, mencipta masyarakat Islam sejati’.
“Jika Sang Surya menggambarkan ideologi dan arah gerakan, Mars ‘Aisyiyah adalah wujud pengamalan nyatanya. Keduanya tidak bisa dipisahkan,” jelasnya.
Atas dasar filosofi tersebut, Muhadjir mengusulkan agar setiap agenda resmi Muhammadiyah menyanyikan Mars ‘Aisyiyah beriringan setelah lagu Sang Surya sebagai simbol keterpaduan dan keselarasan gerakan.
Lebih lanjut, Muhadjir mengapresiasi peran vital ‘Aisyiyah dalam memperkuat pilar-pilar dakwah Persyarikatan, khususnya melalui pemberdayaan perempuan di bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, dan ketahanan keluarga. Sebaliknya, Muhammadiyah bertanggung jawab penuh memberi ruang dan dukungan agar potensi perempuan Muhammadiyah terus berkembang pesat.
“Muhammadiyah bukan sekadar organisasi berstruktur, melainkan gerakan dakwah yang membutuhkan sinergi seluruh komponennya. Keterpaduan ini kunci efektivitas dakwah kita di tengah perubahan zaman yang kian kompleks,” pungkas Muhadjir. (*/tim)
