Muhammadiyah Dan NU: Menjaga Kedekatan Yang Sama Dengan Semua Mazhab

Muhammadiyah Dan Nu: Menjaga Kedekatan Yang Sama Dengan Semua Madzhab
*) Oleh : Dr Nurbani Yusuf, MSi
Ketua PDM Kota Batu & Komunitas Padhang Makhsyar
www.majelistabligh.id -

NU memilih Syafii sebagai mazhab dengan tidak meninggalkan tiga mazhab lainnya sebab ke empatnya adalah bagian dari rumpun ASWAJA .. ?

NU memilih Syafii sebagai satu-satunya mazhab adalah proses pertarjihan. Proses intelektual memilih, menimbang, merundingkan hingga menetapkan Syafii sebagai mazhab yang diikuti ?
Termasuk jawaban intelektual-teologis kenapa Hanafi, Maliki atau Hanbali sebagai madzhab yang tidak dipilih .. ‘.

Mayoritas menganut madzhab Syafi’i, tapi secara resmi mengakui ke-empatnya sebagai mazhab aswaja yang rekomended.

Dalam ringkasan Muqadimah Anggaran Dasar NU, disebutkan:

Perkumpulan/Jam’iyah NAHDLATUL ULAMA beraqidah/berasas Islam menganut faham Ahlusunnah wal Jama’ah dalam bidang aqidah mengikuti mazhab Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi; dalam bidang fiqh mengikuti salah satu dari Mazhab Empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali); dan dalam bidang tasawuf mengikuti mazhab Imam al-Junaid al-Bagdadi dan Abu Hamid al-Ghazali.

^^^^
Muhammadiyah tidak secara eksplisit mengikuti satu mazhab, tapi menjadikan empat mazhab sebagai rujukan dengan pendekatan ijtihad yang disebut Manhaj Tarjih, yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah Maqbullah.

Muhammadiyah tidak bermazhab karena berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama hukum, serta menganut prinsip tajdid (pembaharuan). Bukan berarti menolak mazhab, melainkan memposisikan pendapat ulama mazhab sebagai referensi atau pilihan, bukan keharusan. Sehingga Muhammadiyah memiliki keleluasaan dalam berijtihad dan memperbaharui pemahaman ajaran Islam yang terbuka, inklusif, kaya nuansa dan banyak khasanah.

Penerangan Tentang Hal Tarjih yang dikeluarkan tahun 1936, paragraf ke-6 sungguh mempesona, menabalkan bahwa Tardjih sangat toleran, terbuka dan tidak gampang menyalahkan:

‘Kepoetoesan Majelis Tardjih moelai dari meroendingkan sampai kepada menetapkan, tidak ada sifat perlawanan, yakni menentang ataoe menjatoehkan segala yang tidak dipilih oleh tardjih itoe.”

Majelis Tarjih tidak dalam posisi memvalidasi atau korektor atas pendapat ulama madzhab : tidak dalam posisi menyalahkan ketika mengambil salah satu dari ragam pendapat yang dipilih.

^^^
NU meski secara eksplisit menyebut bermazhab Syafii, tapi secara konseptual- ideologis mengakui ke empatnya sebagai rumpun aswaja.
Muhammadiyah secara ekplisit mengaku tidak bermadzhab, tapi secara praktik-ideologis justru merawat tradisi empat mazhab itu dalam praktik keberagama-annya.
Keduanya berada dalam ranah dialektika kompromistik saling menggenapi .. Bukan berhadapan saling menafikkan. Wallahu ta’ala a’lm

 

Tinggalkan Balasan

Search