Potensi ekonomi Muhammadiyah dinilai sangat besar dan dapat menjadi kekuatan ekonomi umat apabila seluruh sumber daya dan pasar internal organisasi mampu diorganisir secara terintegrasi.
Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, H. Dodok Sartono, SE, MM dalam kegiatan Pengajian Ramadan, Ideopolitor, dan Musyawarah Pimpinan Wilayah (Musypimwil) Muhammadiyah Kalimantan Timur yang digelar di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Samarinda, Jumat (7/3/2026).
Dalam pemaparannya, Dodok menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki jaringan organisasi yang sangat luas, mulai dari ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, lembaga sosial, hingga berbagai amal usaha ekonomi yang tersebar di seluruh Indonesia.
Namun, menurutnya, potensi besar tersebut belum sepenuhnya dikelola dalam satu sistem ekonomi yang saling terhubung.
“Jika pasar internal Muhammadiyah saja terorganisir, kita sudah menjadi kekuatan ekonomi besar,” ujar Dodok di hadapan peserta forum yang berjumlah sekitar 200 orang.
Peserta kegiatan tersebut terdiri dari pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tingkat wilayah, pimpinan daerah Muhammadiyah kabupaten/kota se-Kalimantan Timur, pimpinan organisasi otonom, serta pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah di daerah tersebut.
Menurut Dodok, jaringan amal usaha Muhammadiyah yang selama ini dikenal luas dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial sebenarnya juga memiliki potensi besar untuk menjadi basis pengembangan ekonomi umat.
Ia menjelaskan, ribuan lembaga pendidikan, rumah sakit, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah memiliki kebutuhan ekonomi yang sangat besar, mulai dari pengadaan barang, jasa, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.
Apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui jaringan ekonomi internal Muhammadiyah, maka akan tercipta sebuah ekosistem ekonomi yang kuat dan saling mendukung.
Dalam ekosistem tersebut, Muhammadiyah dapat berperan sebagai penggerak utama yang menyediakan infrastruktur ekonomi, sementara jamaah menjadi pelaku usaha di berbagai sektor.
“Modelnya adalah Muhammadiyah membangun infrastrukturnya, sedangkan jamaah menjadi pelaku usaha,” jelasnya.
Dengan pendekatan tersebut, ekonomi Muhammadiyah tidak berkembang secara individual, melainkan secara kolektif dan berjamaah.
Dodok juga menegaskan, tujuan utama penguatan ekonomi Muhammadiyah bukanlah untuk memperkaya organisasi semata.
Sebaliknya, tujuan yang lebih penting adalah menciptakan sebanyak mungkin pengusaha dari kalangan jamaah Muhammadiyah.
“Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi gerakan dakwah dan pendidikan. Muhammadiyah juga harus menjadi kekuatan ekonomi umat,” katanya.
Namun ia mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi tersebut harus dimanfaatkan untuk membangun kemandirian umat dan memperluas manfaat bagi masyarakat.
Menurut Dodok, konsep ekonomi berjamaah yang dikembangkan Muhammadiyah sangat sejalan dengan nilai-nilai Islam yang menekankan kerja sama dan tolong-menolong dalam kebaikan.
Karena itu, ia mendorong agar Muhammadiyah mulai membangun sistem ekonomi yang lebih terencana dan terintegrasi, termasuk menyusun roadmap ekonomi jangka panjang.
Melalui langkah tersebut, Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan generasi baru pengusaha umat sekaligus memperkuat kemandirian organisasi dalam menjalankan misi dakwah dan pelayanan sosial.
Forum Pengajian Ramadan dan Musypimwil Muhammadiyah Kalimantan Timur yang berlangsung selama tiga hari, 6–8 Maret 2026, menjadi salah satu momentum penting untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam memperkuat peran Muhammadiyah di berbagai bidang, termasuk dalam pembangunan ekonomi umat.
Dengan kekuatan jaringan organisasi yang luas serta sumber daya manusia yang besar, Muhammadiyah diyakini memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu motor penggerak ekonomi umat di Indonesia.(ay.1)
