Perbincangan mengenai penetapan Idulfitri 1447 H kembali hadir di ruang publik. Berbagai flyer dan pesan beredar, membawa beragam narasi yang tidak jarang menimbulkan kegelisahan.
Ungkapan seperti “perukyat tidak resmi”, “pengamat hilal yang diragukan independensinya”, hingga pernyataan bahwa ada pihak yang “tidak menetapkan secara bersamaan” hari raya, semestinya kita sikapi dengan lebih jernih dan tenang.
Dalam kehidupan beragama, khususnya dalam penentuan awal bulan hijriah, perbedaan bukanlah hal baru. Ia adalah bagian dari khazanah ijtihad yang telah berlangsung sejak lama. Karena itu, penting bagi umat untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang cenderung membangun kecurigaan, apalagi tanpa dasar yang jelas.
Rukyat dan hisab adalah dua pendekatan yang sama-sama memiliki landasan keilmuan. Praktik rukyat dilakukan oleh para pengamat yang memiliki kompetensi di bidangnya, sementara Muhammadiyah sejak awal konsisten dengan metode hisab hakiki wujudul hilal. Keduanya lahir dari semangat yang sama, yaitu menghadirkan kepastian dalam beribadah.
Perbedaan hasil dalam penetapan hari raya tidak seharusnya dipahami sebagai pertentangan, melainkan sebagai konsekuensi dari perbedaan metode. Bahkan, dalam banyak kesempatan, kesamaan penetapan juga bisa terjadi sebagai hasil dari ijtihad yang berbeda. Di sinilah pentingnya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan: tidak tergesa-gesa menilai, apalagi menuduh.
Kita juga perlu menyadari bahwa persatuan umat tidak selalu berarti keseragaman dalam praktik. Persatuan justru diuji ketika perbedaan hadir, apakah kita mampu saling menghormati dan menjaga ukhuwah, atau justru terjebak dalam perdebatan yang melelahkan.
Dalam konteks ini, kehadiran Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dapat dipahami sebagai ikhtiar ijtihadi untuk menjawab kebutuhan zaman. Ia bukan untuk meniadakan metode lain, tetapi sebagai upaya mencari titik temu dalam kerangka yang lebih luas dan terintegrasi. Semangat ini sejalan dengan tradisi pembaruan dalam Muhammadiyah yang sejak awal mendorong umat untuk berpikir maju dan terbuka.
Sejarah telah menunjukkan bahwa banyak gagasan pembaruan pada awalnya terasa asing, bahkan ditolak. Namun seiring waktu, manfaatnya dapat dirasakan bersama. Dari sinilah kita belajar bahwa setiap ijtihad membutuhkan ruang untuk dipahami, bukan dihakimi secara terburu-buru.
Pada akhirnya, yang lebih utama dari perdebatan adalah menjaga hati dan persaudaraan. Idulfitri adalah momentum kembali kepada kesucian, bukan hanya secara pribadi, tetapi juga dalam relasi sosial. Maka, alangkah indahnya jika kita menyambutnya dengan saling menghormati, bukan saling mencurigai.
Mari kita rawat kewarasan, memperluas kebijaksanaan, dan meneguhkan komitmen persatuan. Dengan demikian, umat tidak hanya kuat dalam keyakinan, tetapi juga dewasa dalam menyikapi perbedaan. (*)
