Muhammadiyah Mengajarkan Kegembiraan, Bukan Kemarahan

Warga muhammadiyah harus selalu memaafkan, tidak cepat marah. (ist)
www.majelistabligh.id -

Muhammadiyah mengajarkan kegembiraan, sehingga seharusnya warga Muhammadiyah dalam merespon segala situasi dengan tenang, bukan dengan kemarahan. Bagi warga Muhammadiyah, marahan itu jelas tidak sesuai dengan jati diri organisasi ini.

“Yang tidak diperbolehkan adalah orang yang pemarah. Sedikit-sedikit marah, ini yang tidak diperbolehkan. Gampang tersinggung, gampang naik pitam, itu tidak boleh,” kata M. Izzul Muslimin, Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dalam satu kesempatan di Tangerang.

Sikap lemah lembut dan tidak pemarah ini juga sangat penting diterapkan dalam berumah tangga. Membangun harmoni rumah tangga, tidak bisa dibangun dengan kobaran kemarahan, tapi harusnya dengan kelembutan.

Di sisi lain, warga Muhammadiyah juga harus terbuka hatinya untuk memberikan maaf kepada orang lain. Maka, saling memberi dan meminta maaf tidak boleh terjadi hanya pada momen Syawalan saja.

Memberi dan meminta maaf ini tidak hanya berkaitan antara hubungan sesama manusia, tetapi juga berelasi pada hubungan manusia dengan Tuhan. Menurut Izzul, meminta maaf kepada Allah lebih mudah dibandingkan kepada manusia.

Akan tetapi, bermaafan ini bukan untuk konteks hutang. “Maaf di sini hubungan sosial, tapi untuk urusan bisnis kewajiban kita harus menyelesaikan. Kecuali yang bersangkutan menyampaikan kepada kita,” katanya.

Selain itu, ciri orang Muhammadiyah yang bertakwa sebagaimana tujuan dari Puasa Ramadan adalah berinfak, atau keinginan untuk berinfak maupun bersedekah semakin meningkat. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search