Muhammadiyah: Pentingnya Kepemimpinan Berbasis Akhlak

Muhammadiyah: Pentingnya Kepemimpinan Berbasis Akhlak
www.majelistabligh.id -

Tingginya jenjang pendidikan formal terbukti belum menjadi jaminan lahirnya sosok yang jujur dan peduli pada sesama. Maraknya kasus korupsi yang melibatkan kaum terpelajar menunjukkan adanya ruang kosong antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter integritas.

Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, dalam acara Gerakan Subuh Mengaji pada Senin (5/10/2026). Ia menyoroti data Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mencatat bahwa 86 persen pelaku korupsi di Indonesia merupakan lulusan perguruan tinggi.

“Pertanyaannya, apakah lulusan perguruan tinggi itu patut kita syukuri? Patut. Namun, hal itu menjadi tidak memadai jika tidak diimbangi dengan kebijakan pendidikan yang berbasis pada keluarga sejak dini,” ujar Busyro.

Menurutnya, fenomena ini memperlihatkan jurang pemisah antara pencapaian akademis dan penanaman moral. Seseorang bisa saja menyelesaikan studi hingga sarjana, magister, atau doktor, tetapi tetap terjerumus dalam praktik haram akibat mengikisnya nilai-nilai etika.

Busyro juga menyayangkan budaya permisif di tengah masyarakat terkait cara memperoleh penghasilan. Sikap serba boleh ini sering kali memicu lahirnya pemikiran yang mengabaikan batasan halal dan haram demi keuntungan pribadi.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa keberhasilan kampus—baik negeri, swasta, maupun perguruan tinggi Muhammadiyah—tidak boleh hanya diukur dari angka kelulusan mahasiswa. Perguruan tinggi memikul tanggung jawab moral untuk mencetak pemimpin yang berintegritas, bersahaja, dan memegang teguh kejujuran saat mengemban amanah publik.

“Perguruan tinggi harus menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya pemimpin yang berbasis akhlak dan ilmu. Jujur itu hebat di mata rakyat dan terhormat di mata Allah,” tegas mantan Wakil Ketua KPK tersebut.

Di samping peran perguruan tinggi dan ketegasan aparat penegak hukum, Busyro mengingatkan bahwa benteng utama pembentukan karakter tetap bermula dari lingkungan keluarga. Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama yang menyajikan keteladanan nyata bagi anak-anaknya.

Ia mengajak masyarakat untuk membiasakan hal-hal yang benar berdasarkan tuntunan agama dan rasionalitas ilmu, bukan sekadar melanggengkan kebiasaan atau tradisi lokal yang belum tentu sejalan dengan nilai moral.

Busyro juga mendorong generasi muda untuk aktif berorganisasi dan membuka diri dalam pergaulan masyarakat yang majemuk tanpa kehilangan teguran iman. Pada akhirnya, tolok ukur utama dari sebuah proses pendidikan adalah lahirnya manusia yang memberi kemanfaatan luas bagi sesama, sebagaimana prinsip khairunas anfauhum linnas. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search