Muhammadiyah pada awalnya adalah gerakan pembaharuan pemahaman keagamaan, bukan kumpulan gerakan pekerja yang bernaung dalam sebuah organisasi. Karena itu, sejak awal berdiri hingga kini berusia lebih dari 1 (satu) abad, Muhammadiyah adalah wadah titik temu gerakan pemikiran pembaharuan terlepas dari mana person tersebut berasal, baik berasal dari madzhab teologi maupun madzhab fiqih, politik, pergerakan kemerdekaan dan lainnya, bertemu dalam titik yang sama: Gerakan pemikiran pembaharuan Islam.
Namun Muhammadiyah tidak berhenti hanya pada bidang pembaharuan pemikiran semata, namun melangkah lebih jauh pada Islam aksi, Islam yang diamalkan dalam dunia nyata, dalam realitas kehidupan nyata, meminjam istilah Ibn Taimiyah, “Bukan hanya sebatas angan-angan, namun dalam kenyataan” (al-haqiqah la fi al-adzhan, bal fi al-a’yan), Islam yang membawa perubahan nyata dalam kehidupan muslim, sebagai Islam yang “transformatif” sebagaimana yang diteorikan oleh Kang Moeslim Abdurahman.
Ia aktual, karena tidak berhenti pada kajian-kajian ilmu yang diajarkan oleh kitavb-kitab yang ditulis oleh para intelektual muslim, para masyayikh, kyai, pemikir, filosof, atau roisyan fikr ummat. Tidak heran, jika pada dekade awal formatif Muhammadiyah, para anggota, aktivis, dan pengurus persyarikatan adalah “orang sekolahan” dan “aktivis” organisasi, pelajar, mahasiswa, kemerdekaan sekaligus.
Ada Soekarno, KH Agus Salim, Kasman Singodimeja, Ki Hadikusuma, Otto Iskandar Dinata, Djuanda, Sudirman, Kahar Muzakkir, dan lainnya. Termasuk para pimpinan teras Syarikat Islam Merah yang berhaluan Kiri, juga mengaji dengan K.H. Ahmad dahlan seperti Semaun, Alimin, saat bersama-sama berkumpul di Surabaya di tempat H.O.S. Cokroaminoto. Para pemimpin pejuang kemerdekaan adalah tokoh-tokoh yang “melek huruf”, terpelajar, sekolah, intelek, bukan orang yang tidak sekolah, tidak mengenyam pendidikan baik sekolah partikelir (swasta) maupun milik penjajah, pendidikan pesantren maupun non pesantren.
Tidak heran jika para pembesar gerakan pemikiran Islam, politik, dan gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, banyak bertemu dengan gagasan pembaharuan Islam yang digagas oleh Kyai Ahmad Dahlan. Beliau kiai yang berasal dari kalangan bangsawan keraton, yang karena posisinya sedikit atau banyak, kecil atau besar, membawa “berkah” tersendiri bagi kyai Dahlan dan gerakan pembaharuan yang digelorakannya. Karena secara tidak langsung, “marwah” tersebut tentu ada pengaruhnya terhadap “keamanan” gerakan “i’tizaliyah” dari “mainstream” ummat Islam saat itu. Dari mana “bibit” berasal, masih dilihat dan dipertimbangkan orang untuk bertindak dan melakukan sesuatu, karena masih “dzuriyat” kaum tertentu.
“Marwah” yang sama juga diperoleh oleh gerakan pembaharuan yang digagas oleh Kiai Dahlan secara intelektual, karena beliau berguru kepada ulama’ terkemuka saat itu, misalnya kepada Syaikh Kyai Shaleh Darat al-Samarani, Syaikh Mahfuz al-Tarmasi, Syaikh Khatib al-Minangkabawi, dan syaikh-syaik dari nusantara lainnya yang bermukim di Hijaz pada saat itu. Sehingga secara keilmuan “tradisional”, Kiai Dahlan sudah “khatam” kitab-kitab “turats” yang dikuasai oleh kyai-kyai seangkatan dengan beliau seperti Kyai Hasyim Asy’ari dan lainnya. Sehingga “rasa sungkan” pasti ada, manakala mengetahui “asal-muasal” (sanad) keilmuan tradisional Kiai Dahlan.
Tak heran, kiai-kiai besar Nahdlatul Ulama’ sekarang pun menyebut Kiai Dahlan dengan sebutan “Mbah Kiai Dahlan”. Sebutan “mbah” adalah sebutan kehormatan bagi kalangan tradisionalis dan kaum Nahdliyin kepada kyai yang mereka hormati, baik karena nasab maupun karena keilmuan yang dikuasainya.
