Muhammadiyah: Rumah Perjuangan ataukah Rumah Singgah?

Muhammadiyah: Rumah Perjuangan ataukah Rumah Singgah?
*) Oleh : Bukhori at-Tunisi
Alumni IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

Orang aktif muhammadiyah pada fase Kiai Dahlan hidup dan sebelum dekade awal abad XXI adalah karena adanya “titik temu” sebagai persamaan ideologi pemikiran (kalimatus Sawa’), yaitu berfikran maju, progresif, terbuka, rasional, bebas dari kebekuan pemikiran, tidak pasif berpirkir (taqlid), mau berpikir keras (ijtihad), namun sekaligus artikulatif (gerakan amal), dipraktikkan, diamalkan. Maka gerakan pembebasan dari keterbelakangan dengan mendirikan pesantren seperti Madrasah Muallimin dan Muallimat, sekolah-sekolah Muhammadiyah dan gerakan melawan penjajahan, adalah hal yang inheren di dalam jiwa aktivis Muhammadiyah sehingga mereka adalah aktivis Muhammadiyah sekaligus aktivis pergerakan kemerdekaan.

Ini seperti Sabda Nabi, “Seseorang akan bersama-sama dengan apa yang dia cintai.” Apa yang disukai, dia gemari, dia hobi, satu nafas, satu perjuangan, satu tujuan, satu misi, satu ideologi, satu pemikiran, dst. akan bertemu dan bersatu dengan yang satu hobi, satu visi, dan satu misi.

Dalam bahasa sosiologi agama, penyebutan para Indonesianis dengan sebutan Kaum Sekolahan dan Kaum Sarungan adalah penyebutan diferensial untuk menandai kelompok terpelajar yang belajar di sekolah-sekolah gouvernemen Belanda dan yang belajar di pendidikan pesantren dan di langgar, surau, atau majelis ta’lim.

Kaum Sekolahan adalah kaum terpelajar secara Barat sehingga faham tentang persamaan derajat, kemerdekaan, hak-hak dasar manusia, pendidikan, kesejahhteraan sosial, keadilan, dan seterusnya, dinyatakan lebih frontal dan terbuka, terutama melalui tulisan, gerakan massa, dan perlawanan politik. Sedang Kaum Sarungan, menjauhi penjajah Belanda, dengan mendirikan pesantren, majelis ta’lim, mendirikan surau, mushalla, Langgar, dan masjid sebagai tempat pembelajaran terutama ilmu-ilmu keislmana, tanpa menyamai penampilan mereka, tidak sekolah di sekolah penjajah, adalah bentuk perlawanan nyata atas penjajahan.

Penyebutan Kaum Sekolahan pada dekade awal formatif Muhammadiyah seolah menjadi “kebanggaan” tersendiri bagi mereka yang masuk dan menjadi pengurus Muhammadiyah, karena identik dengan kaum intelektual, terpelajar, maju, bisa membaca, kaum “elit”, dan sebutan marwah lain yang mengidentikkan diri mereka yang secara sosiologis sebagai kaum “borjuis”, berada, dan bukan kaum papa, tak terpelajar, terbelakan, tidak maju, dan bukan karena ingin menjadi “karyawan” Muhammadiyah.

Kaum Sarungan pada saat itu, oleh Belanda disebutkan demikian, sebagai simbol keterbelakangan, nerimo ing pandum, pasrah kepada nasib, miskin, tidak terpelajar dan tidak intelek. Disebutkan seperti itu, sebagai sebutan pejoratif, pendeskriditan, dan merendahkan. Perlakukan seperti itu untuk mematikan keberanian psikologis kaum terjajah muslim agar mereka lebih terasa terpinggirkan, termarjinalkan, dan tidak berani melakukan aksi perlawanan.

Realitasnya, Kaum Sarungan tidak berarti tidak bisa baca, buta huruf, dan terbelakang, tidak. Mereka melek huruf, bisa baca, bahkan pinter menulis, dan kyai-kyai adalah kaum terpelajar dan mahir menuis kitab dan risalah. Mereka pandai dan mahir membaca dan menuis dalam huruf Arabm bukan huruf Latin. Kaum sarungan, mereka berakar di majelis kyai, surau, Langgar, masjid, pesantren, Dayah, dan lainnya.

Mereka adalah pejuang yang terkalahkan saat perang melawan penjajah, tak heran jika setelah Perang Diponegoro berakhir, para prajurit berjuang secara terpencar, sporadis, kewilayahan, untuk memberikan perlawanan kepada penjajah Belanda. Mereka mendirikan mushala, pesantren, masjid, majelis ta’lim, sebagai basis pengajaran sekaligus basis perjuangan rakyat, bisa sewaktuwaktu diperlukan.

Ingat! Para panglima Perang Diponegoro dan para huubalang, prajurit tempurnya, mayoritas adalah para santri, sehingga saat Pangeran Diponegoro ditangkap, para panglima, hulubalang, prajuritnya, mereka lari ke kampung dan mendirikan mushalla. Di situlah santri yang pernah bertempur melawan penjajah, mengabdi, mendidik, dan menanamkan ilmu pengetahuan kepada masyarakat. Jadi, Kaum Sarungan bukanlah kaum yang tidak mau bergerak, tidak mau berjuang, menolak melawan. Mereka adalah para pejuang, pendidik, dan melakukan perlawanan “bawah tanah”.

Sebutan Kaum Sarungan saat itu adalah untuk mendiskreditkan dan merendahkan kalangan santri dan kalangan muslim desa, karena tidak mau tunduk sama Belanda. Ingat! Sarung bukan hanya dipakai oleh kaum santri, sarung juga dipakai oleh kalangan rakyat biasa, pedagang, para “belantik” sapi dan binatang ternak lainnya, dan juga tukang judi, bahkan untuk bandar judi, plus Kopyah yang dipakai secara miring, bukan lurus seperti santri.

Lalu apakah Kaum Sekolahan bersikap akomodatif, kompromistis, permisif dan tunduk sama penjajah Belanda? Ada yang “ya”, dan ada yang “tidak”. Karena para terpelajar Nusantara yang sekolah di sekolah Belanda, mereka rata-rata menjadi pemimpin pergerakan politik dan pergerakan perlawanan kepada kolonial Belanda. Sebutlah para tokoh besar seperti Cokro Aminoto, Agus salim, Tan Malaka, Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangun Kusumo, Soekarno, Hatta, Muhammad Yamin, Armin Pane, Sanusi Pane, dan lainnya. Namun juga ada yang menjadi “karyawan” Belanda.

 

Tinggalkan Balasan

Search