Muhammadiyah Tegaskan 3 Kunci Ketahanan Amal Usaha

Muhammadiyah Tegaskan 3 Kunci Ketahanan Amal Usaha
www.majelistabligh.id -

Keberhasilan dan keberlanjutan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak sekadar ditentukan oleh besarnya modal atau kecerdasan sumber daya manusia, melainkan oleh daya tahan (resilience) dalam menghadapi dinamika perubahan zaman.

Hal tersebut ditegaskan oleh Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief, saat memberikan arahan dalam acara Pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) Masa Jabatan 2026–2030 di Lamongan, Sabtu (17/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Hilman menggarisbawahi tiga aspek resiliensi utama yang wajib diperkuat oleh seluruh pengelola AUM, yakni resiliensi keuangan, akademik dan kualitas, serta sumber daya manusia (SDM) dan budaya organisasi.

“Orang yang berhasil itu bukan hanya yang pintar atau banyak uangnya, melainkan yang memiliki daya tahan. Hal ini berlaku bagi mahasiswa, dosen, terlebih lagi institusi di tengah situasi yang terus bergerak dinamis, baik regional, nasional, maupun internasional,” tegas Hilman.

  1. Resiliensi Keuangan (Financial Resilience)

Hilman menjelaskan, ketahanan finansial merupakan fondasi vital agar AUM tidak hanya mampu bertahan secara operasional, tetapi juga memiliki ruang untuk melakukan akselerasi dan ekspansi.

Ia mendorong para pimpinan AUM agar berani memanfaatkan instrumen pembiayaan perbankan untuk mempercepat pembangunan. Meski demikian, langkah tersebut harus dibarengi dengan asas transparansi, kalkulasi matang, dan prinsip kehati-hatian (prudence).

“Di satu sisi saya mendorong keberanian mengambil pembiayaan, namun jika ada yang terlalu agresif, tugas saya adalah mengerem. Saya harus memastikan setiap langkah tetap terukur, transparan, dan bukan sekadar menambah beban utang,” jelasnya.

  1. Resiliensi Akademik dan Kualitas (Academic & Quality Resilience)

Daya tahan institusi pendidikan Muhammadiyah juga sangat ditentukan oleh konsistensi dalam menjaga mutu akademik dan memperluas jejaring global. Hilman menyoroti pentingnya meraih peluang kerja sama internasional untuk mendongkrak kapasitas akademisi dan daya saing lulusan.

Ia mencontohkan kemitraan dengan Universitas Umm Al-Qura di Arab Saudi untuk program pendidikan kader, serta tingginya permintaan tenaga kesehatan dan perawat Indonesia di Arab Saudi maupun Qatar.

  1. Resiliensi SDM dan Budaya Organisasi (Human Capital & Cultural Resilience)

Terakhir, Hilman mengingatkan bahwa keberlanjutan AUM sangat bergantung pada budaya organisasi yang menghargai histori perjuangan antar-generasi—mulai dari generasi perintis, pengembang, hingga penerus.

“Tidak ada amal usaha yang berdiri secara instan. Sebaik-baiknya pimpinan adalah yang mampu mengerti dan menghargai jasa pendahulunya. Jangan lupakan para perintis,” pungkasnya.

Guna menjaga kelancaran regenerasi dan tata kelola yang bersih (good governance), ia mengusulkan penyusunan memori jabatan bagi setiap pimpinan AUM yang mengakhiri masa tugas agar proses transisi kepemimpinan berjalan tertib dan tidak meninggalkan beban masalah bagi penerus.

Hilman menyimpulkan bahwa ketiga aspek resiliensi tersebut harus berjalan selaras untuk memastikan peran Persyarikatan Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan masyarakat tetap kokoh melintasi zaman. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search