Muhasabah

Muhasabah
*) Oleh : Abdul Mu’ti
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah; Sekretaris Umum PP. Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Secara bahasa, muhasabah berasal dari lafaz hasaba yang berarti menghitung, menilai, atau mengevaluasi. Dalam ilmu tasawuf, muhasabah berarti introspeksi, mawas diri, evaluasi diri, atau melihat ke dalam diri atas semua perbuatan. Dengan muhasabah seseorang berusaha menilai kekurangan diri, dosa-dosa, dan kesalahan.

Muhasabah merupakan sifat terpuji agar manusia tidak pongah dan bangga diri dengan amal perbuatannya. “Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan orang-orang yang sabar (Qs. Ali Imran [3]:142).

Allah melarang manusia merasa dirinya bersih dari dosa. “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia (Allah) mengetahui siapa orang-orang yang bertakwa (Qs. An-Najm [53]:32).

Sahabat Umar bin Khattab memberi nasihat. “Hisablah dirimu sebelum dihisab. Timbanglah (amal perbuatanmu) sebelum kamu diimbangi.” Islam mengajarkan agar manusia senantiasa rendah hati dan tidak jumawa.

Manusia bertakwa bukanlah mereka yang tidak berbuat dosa. Berbuat dosa adalah hal yang bisa dialami dan dilakukan siapa saja. “Orang-orang yang apabila berbuat keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera ingat Allah dan memohon ampun atas segala dosanya. (Qs. Ali Imran [3]: 135).

Orang kuat bukanlah mereka yang tidak pernah jatuh, tetapi mereka yang bisa bangkit kembali setelah terjatuh. Orang hebat bukan mereka yang tidak pernah kalah, tetapi mereka yang bisa belajar dari kekalahannya. Orang bersih bukan mereka yang tidak pernah berbuat dosa, melainkan mereka yang sadar akan kesalahannya, meminta ampun atas dosa-dosanya, dan berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Ramadan adalah momentum melakukan muhasabah, memperbaiki diri dengan memperbanyak zikir kepada Allah, memohon ampunan, dan melakukan islah: memperbaiki diri dengan amal salih, berpikir jernih, dan hati yang bersih. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search