Muncul Ide Bangun Sekolah Panggung di Daerah Bencana

Dialog pendidikan bersama Kemendikdasmen. (ist)
www.majelistabligh.id -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memprioritaskan revitalisasi fasilitas pendidikan di kawasan rawan bencana guna memastikan kegiatan belajar anak tidak terhenti. Salah satu terobosan struktur bangunan yang disiapkan adalah konsep “sekolah panggung” untuk wilayah langganan banjir seperti Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Hal tersebut ditegaskan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat saat menggelar dialog bersama ratusan guru dan kepala sekolah se-Kabupaten Demak, Sabtu (26/9/2026).

“Prioritas utama kami adalah penyelesaian sekolah di daerah terdampak bencana. Yang kita bangun bukan sekadar fisik bangunannya, melainkan memastikan anak-anak tidak kehilangan tempat dan waktu belajar akibat fasilitas yang rusak,” ujar Wamen Atip.

Pada 2025, Kabupaten Demak memperoleh alokasi program revitalisasi untuk 89 satuan pendidikan dan telah mengusulkan 111 sekolah tambahan pada tahap berikutnya. Merespons aspirasi Kepala SD Negeri Batursari 1 Suwono agar pemerintah daerah dilibatkan dalam penentuan prioritas, Wamen Atip memastikan bahwa tingkat kerusakan fisik di lapangan dan faktor risiko bencana akan menjadi pijakan utama penetapan penerima bantuan.

Beasiswa Guru TK dan Solusi Anak Tidak Sekolah

Menjawab keluhan Kepala TKN Pembina Mranggen, Istirokah, mengenai nasib guru TK senior yang terganjal syarat kualifikasi S1/D4 untuk mengikut program PPG dan sertifikasi, Wamen Atip menegaskan bahwa pemerintah telah menyediakan skema beasiswa pendidikan bagi guru berijazah di bawah D4/S1. Sementara itu, regulasi dan alokasi anggaran untuk status pendidik PAUD nonformal saat ini masih terus dikaji.

Di sisi lain, menanggapi keresahan Kepala SMP Negeri 2 Mranggen Heri Sarwanto terkait tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Demak yang menembus angka 8.000 anak (data per 31 Agustus), Wamen Atip mendorong transformasi paradigma pendidikan dari sekadar schooling (persekolahan formal) menuju learning (proses belajar berkelanjutan).

“Belajar tidak harus selalu di dalam gedung sekolah formal. Kita perlu memperluas pendekatan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Tujuan utama pendidikan bukan semata-mata mencari kerja, melainkan membentuk manusia yang cerdas,” ungkapnya.

Untuk menangani persoalan ATS tersebut, Pemerintah Kabupaten Demak sendiri meluncurkan program Gerakan Terpadu Temukan, Layanan, dan Integrasikan (Gardu Teladan) serta gerakan Ayo Sekolah Kembali. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search