Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran kembali menghadirkan suasana khusyuk dalam pelaksanaan ibadah Jumat, (5/12/2025). Pada kesempatan ini, khutbah disampaikan oleh Ustaz Arfandi Ismail, S.Sy., S.Pd, seorang pengajar di Pondok Pesantren Madinah Kamilah, yang mengangkat tema mendalam: “Musibah Adalah Ujian Keimanan: Antara Syukur dan Sabar.”
Ustaz Arfandi menjelaskan, istilah musibah berasal dari kata Ashoba–Yushibu–Ishobatan–Mushibatan, yang bermakna segala sesuatu yang menimpa diri manusia, baik hal yang tampak menyenangkan maupun yang tidak diinginkan.
“Apa pun yang datang kepada kita, baik yang membuat kita senang maupun tidak, semuanya adalah musibah,” tegasnya.
Karena itu, apabila musibah datang dalam bentuk kenikmatan, maka seorang mukmin harus meresponsnya dengan bersyukur sebagaimana firman Allah, “La’in syakartum la’azîdannakum.”
Sebaliknya, bila musibah tampak tidak menyenangkan, maka seorang mukmin harus menerimanya dengan bersabar, sesuai dengan isyarat ayat, “Wa ‘asâ an takrahû syai’an.”
Khutbah semakin menguatkan pemahaman ini melalui firman Allah dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 2-3:
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.”
Orang Beriman: Ujiannya Lebih Berat
Dalam khutbahnya, Ustaz Arfandi mengingatkan, semakin tinggi iman seseorang, semakin besar ujian yang ia hadapi. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW ketika ditanya: “Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab:
“Para Nabi, kemudian orang-orang saleh setelah mereka.”
Sejarah kerasulan menjadi bukti konkrit:
– Nabi Nuh diuji melalui anak dan istri yang durhaka.
– Nabi Ibrahim diuji dengan ayah yang kufur, kaumnya, api pembakaran, bahkan perintah meninggalkan keluarga.
– Nabi Luth menghadapi kaumnya yang melakukan maksiat LGBT serta istri yang durhaka.
– Nabi Ayyub diuji penyakit bertahun-tahun.
– Nabi Musa berhadapan dengan penguasa bengis tanpa belas kasih.
Dari sini, Ustaz Arfandi menekankan pentingnya husnuzan (berbaik sangka) kepada Allah.
“Jika kepada atasan manusia saja kita sanggup bersabar demi gaji bulanan, mengapa kita tidak mampu bersabar kepada Allah yang memberi pahala kekal?”
Lima Jenis Ujian Kehidupan
Dalam penutup khutbah, Ustaz Arfandi merinci bahwa ujian keimanan dalam kehidupan manusia terbagi menjadi lima jenis, yaitu:
1. Ujian Perintah yang Wajib Dikerjakan
Shalat, zakat, puasa, haji, berbakti kepada orang tua, jujur, dan menepati janji.
Contoh: Nabi Ibrahim menjalankan semua perintah dengan ketaatan sempurna.
2. Ujian Larangan yang Harus Ditinggalkan
Menjauhi minuman keras, zina, dusta, menipu, korupsi, dan khianat.
Contoh: Nabi Yusuf berhasil menjaga diri dari godaan kemaksiatan.
3. Ujian Kenikmatan yang Harus Disyukuri
Nikmat kesehatan, harta, keluarga, hingga nikmat yang tidak tampak seperti akal, udara, dan sel tubuh.
Contoh: Nabi Sulaiman bersyukur atas kekuasaan dan kemuliaan.
“Hâdzâ min fadhli rabbî li yablûwanî a asykuru am akfur.”
4. Ujian Kesusahan yang Harus Disabari
Sakit, musibah, keterbatasan rezeki, kegagalan, dan kesulitan hidup.
Contoh: Nabi Ayyub bersabar dalam penyakit yang lama menimpa.
5. Ujian dari Musuh-Musuh Allah
Gangguan jin dan manusia, perlawanan terhadap agama, dan pertarungan antara haq dan batil yang terus berlangsung hingga kiamat.
Ustaz mengingatkan, ujian ini mengajarkan pentingnya menjaga persatuan umat, memperhatikan urusan saudara, dan kembali menguatkan hubungan dengan Allah.
Khutbah Jumat ini memberikan pemahaman bahwa musibah bukan sekadar kesulitan, melainkan cermin keimanan seorang hamba. Respon yang tepat terhadap musibah — baik berupa syukur ataupun sabar — menjadi pembeda antara mereka yang benar imannya dan yang dusta.
Ustaz Arfandi menutup khutbah dengan doa agar umat Islam diberikan kekuatan dalam menghadapi ujian hidup serta diberi kemampuan untuk bersyukur dan bersabar atas semua ketentuan Allah. (bayu firdaus)
