Indikator utama dari kualitas keberislaman seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritual pribadi, melainkan dari sejauh mana keberadaannya memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial.
Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Gita Danu Pranata, dalam acara Pengajian yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tamantirto Utara, Bantul, pada Rabu (28/10/2026).
“Spiritualitas atau religiusitas individu yang hanya berdampak bagi dirinya sendiri itu ternyata baru berada di tingkat dua. Jika keberislaman seorang muslim ada tingkatannya, maka kesalehan sosial berada di urutan paling atas,” ungkap Gita.
Meski kesalehan sosial menjadi indikator utama, Gita menegaskan bahwa nilai-nilai tauhid dan ketaatan dalam menjalankan ibadah khusus (mahdhah) tetap tidak boleh dikesampingkan. Bagi Muhammadiyah, Islam yang diajarkan Nabi Muhammad saw bukan sekadar ajaran untuk mencari pahala pribadi, melainkan rahmatan lil ‘alamin, ajaran yang membawa kebaikan bagi seluruh alam.
Dalam lingkup terkecil, lanjut Gita, seorang muslim memiliki kewajiban moral untuk menjalin hubungan harmonis dengan tetangga di sekitar tempat tinggalnya, meskipun tidak memiliki hubungan darah.
“Prinsipnya adalah khairunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain). Kita harus berbuat baik kepada tetangga, baik yang berada di depan, belakang, kanan, maupun kiri, baik yang dekat maupun jauh,” terangnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan empat pilar utama dalam Islam untuk membangun hubungan kemasyarakatan yang harmonis:
- Saling Mengenal (Ta’aruf): Membangun komunikasi dan keterikatan awal antar sesama tetangga.
- Saling Memahami (Tafahum): Memahami batas-batas hak dan kewajiban agar tidak saling merugikan.
- Saling Menasehati (Tawashu): Mengingatkan dalam kebaikan serta mencegah kemungkaran secara santun.
- Saling Menanggung (Takaful): Memiliki kepedulian sosial yang mendalam.
Terkait poin keempat (takaful), Gita memberi catatan bahwa ikatan ini umumnya paling dominan berlaku dalam lingkup internal keluarga, seperti hubungan antara orang tua dan anak. Kendati demikian, semangat kepedulian tersebut hendaknya tetap menjiwai kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. (*/tim)
