Kepemimpinan yang agung muncul dari kuatnya memegang amanah. Ketika amanah dipegang teguh dan dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka keagungannya menjadi perbincangan abadi. Nabi Ibrahim merupakan sosok manusia agung. Ketika diberi amanah, dia menunaikan dengan sungguh-sungguh.
Kesungguhan dalam menunaikan amanah itulah maka Allah menjadikannya sebagai imam bagi seluruh manusia. Hingga kini, keteladanan Nabi Ibrahim tidak pernah lekang untuk diperbincangkan bagi seluruh agama.
Beliau pun tidak letih untuk melahirkan pemimpin yang amanah sebagaimana yang pernah dilakukan, sehingga berdoa lahirnya generasi yang amanah. Generasi yang amanah inilah yang membuat kehidupan masyarakatnya aman dan sejahtera.
Pemegang Amanah
Nabi Ibrahim tidak pernah luput dari ujian besar dan berat. Beliau menjalani dengan sukses. Keberhasilan dalam menjalani ujian sudah dilakukan sejak muda. Ketika masih usia muda, dia berani mendatangi kaum penyembah berhala dan mendakwahkan tauhid. Dia pun dibakar tapi diselamatkan Allah.
Ketika menikahi Sarah sebagai istri pertama, cukup lama belum dikaruniai anak. Dia pun bersabar hingga menikah lagi dengan Hajar sehingga lahir Ismail. Begitu lahir putera yang dinanti-nantikan, beliau diperintah untuk menyembelihnya. Perintah itu dijalankan dengan baik, hingga Allah menggantinya dengan seekor domba.
Berbagai cobaan ketika berdakwah untuk menegakkan nilai-nilai tauhid dijalankan dengan sempurna hingga Allah menyematkan pada dirinya sebagai imam bagi seluruh manusia. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِـۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhan-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata, “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman, “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”. (QS. Al-Baqarah : 124)
Pengakuan Allah atas kepemimpinannya terabadikan karena terbukti telah menjalankan perintah dan larangan secara sempurna. Dia pun bersungguh-sungguh mendidik keturunannya untuk melanjutkan risalah dan amanah yang telah dijalankannya. Allah pun mengiyakan ketika tidak terjadi kezaliman.
Nabi Ibrahim tidak perlua untuk berdoa lahirnya generasi penerus yang akan melanjutkan kepemimpinan profetiknya. Lahirnya generasi penerus itu untuk mengajarkan dan mewariskan guna mensucikan batin dan jiwa yang bersih. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيهِمۡ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab (Al-Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkau-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah : 129)
