Praktik geopolitik di wilayah Timur Tengah semakin memburuk. Ketegangan militer antara Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat telah menyebabkan efek berantai yang kini mulai berdampak pada masyarakat di Indonesia. Penutupan jalur vital di Selat Hormuz—jalur utama yang menyuplai sekitar 20% minyak dunia—telah membuat harga minyak mentah Brent naik di atas angka US$ 100 per barel, jauh melebihi asumsi APBN 2026 yang hanya memprediksi angka US$ 70.
Di dalam negeri, kemungkinan terjadinya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bukan lagi sekadar ramalan, melainkan masalah nyata yang memaksa pemerintah untuk mengambil tindakan luar biasa.
Pendekatan Indonesia: Antara Diplomasi dan Ketahanan Energi
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah yang pragmatis sekaligus berstrategi. Di arena internasional, Indonesia terus mendukung seruan untuk menghentikan kekerasan melalui politik luar negeri yang independen. Namun, di balik usaha diplomasi, Jakarta berupaya keras untuk memastikan pasokan.
Beberapa langkah nyata yang diambil adalah:
Diversifikasi Sumber Impor: Indonesia mulai mengubah sumber impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke Amerika Serikat dan negara-negara yang tidak mengalami konflik untuk mengatasi kekurangan akibat blokade Selat Hormuz.
Efisiensi Energi Nasional: Kebijakan penghematan energi mulai diterapkan di seluruh negeri, termasuk rencana kebijakan Work From Home (WFH) dan Work From Anywhere (WFA) bagi ASN untuk mengurangi penggunaan BBM sehari-hari.
Audit Subsidi Energi: Pemerintah terus melakukan evaluasi anggaran untuk memastikan agar beban subsidi energi yang meningkat hingga ratusan triliun rupiah tidak mengguncang stabilitas fiskal negara.
Guncangan Ekonomi: Inflasi Mengintai
Bagian ekonomi menjadi yang paling terdampak. Setiap kenaikan harga minyak global secara otomatis memperbesar defisit APBN karena beban kompensasi energi yang meningkat tajam.
1. Tekanan Terhadap Rupiah: Nilai tukar rupiah sempat turun mendekati level Rp 17.000 per dolar AS, yang mengakibatkan harga barang impor naik (imported inflation).
2. Biaya Transportasi: Kelangkaan BBM di berbagai daerah menyebabkan antrean panjang di SPBU dan kenaikan biaya transportasi. Hal ini langsung mempengaruhi harga barang kebutuhan pokok di pasar tradisional.
Dampak pada Pendidikan: Dilema Pembelajaran di Masa Krisis
Sektor pendidikan juga terkena dampak dari situasi ini. Biaya transportasi yang tinggi mulai membebani siswa dan guru. Menariknya, pemerintah sempat mempertimbangkan untuk kembali menggunakan sistem pembelajaran daring (online) pada April 2026 sebagai cara untuk menghemat BBM secara luas.
Namun, kebijakan ini memicu perdebatan. Walaupun efektif dalam mengurangi mobilitas, banyak yang khawatir tentang potensi learning loss (penurunan kualitas belajar) yang berkepanjangan setelah pandemi sebelumnya. Saat ini, beberapa daerah telah menerapkan jam sekolah yang lebih fleksibel untuk menghemat energi tanpa menutup sepenuhnya kegiatan belajar tatap muka.
Kesimpulan Opini
Indonesia kini berada di titik penting yang krusial. Krisis Iran-Israel merupakan pengingat bahwa ketahanan energi nasional masih sangat rentan terhadap guncangan dari luar. Keberhasilan Indonesia dalam menghadapi tantangan ini sangat bergantung pada seberapa cepat pemerintah melakukan transisi energi dan seberapa kuat masyarakat dalam menghadapi penyesuaian ekonomi yang sulit. (*)
